Nov 17, 2017

Memilihku

Jika memang kau memilihku karena aku adalah yang terbaik dari beberapa wanita yang masuk dalam kriteriamu. Aku tidaklah sedih ataupun bangga.

Apa yang harus aku sedihkan? Apa karena aku dipilih berdasarkan perbandingan dan pertimbangan yang menyatakan bahwa kau tidak terlalu yakin akanku? Sungguh itu tidak menyedihkanku. Sebab yang kau lakukan adalah logis, tentu kau akan memilih pendamping yang terbaik untuk ibu dari anak-anakmu.

Apa yang harus aku banggakan? Apa karena aku adalah wanita terbaik dari beberapa wanita, atau yang bisa disebut akulah pemenangnya? Aku tidak ingin mendidik diriku menjadi diri yang bisa mengalahkan orang lain. Sebab aku takut, bila aku mempunyai jiwa yang tak mau dikalahkan.

Tetapi ketika aku menjadi halal bagimu. Sungguh aku ingin menjadi terbaik untukmu, agar kau tidak berpaling.

Nov 16, 2017

Mendidik Anak Tentang Kesantunan, Etika Dan Tata Krama

Anak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama, sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang tangguh, disenangi, dan disegani banyak orang.

Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah. Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima.

Mereka sanggup beli barang-barang mewah. Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan.

Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota. Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana.

Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan. Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan.

Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja. Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah.

Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya. Tapi juga tidak merendahkan orang yg lebih miskin darinya.

Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi. Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas, kapasitas
dirinya, bukan dari barang yang dikenakan.


Mereka punya.. Tapi tidak teriak kemana -mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya.

Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan, etika tata krama.

Hal hal sederhana tentang kesantunan seperti :
🔹Pamit saat pergi dari rumah,
🔹Permisi saat masuk ke rumah temen (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang ada di rumah itu),
🔹Saat masuk atau pulang kerja memberi salam kepada rekan, terlebih pimpinan,
🔹Kembalikan pinjaman uang sekecil apapun,
🔹Berani minta maaf saat ada kesalahan,
🔹Tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun.


Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya.

Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup.

Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika tata krama, kesederhanaan.

Karena ini jauh lebih mahal dari pada sekedar uang.

Semoga kita dapat menjadi pendidik yang baik bagi para penerus bangsa.

Nov 12, 2017

Bukan Tuhan Yang Berubah

Apa yang hilang dari kita saat usia kita semakin bertambah?. Selain kita kehilangan tahun-tahun yang begitu saja berlalu. Masa muda yang setiap hari semakin “nggak muda”. Kita juga kehilangan hal lain.

Kepercayaan. Ingat dulu waktu kecil, kita percaya kalau negeri dongeng ada. Lorong waktu. Kerajaan. Peri-peri. Damn so real (atau cuma saya saja). Waktu kecil saya percaya pada banyak hal. Bahkan pada hal-hal yang jika sekarang saya mengingat-nya, saya akan tertawa mengenang betapa polos dan “fairy tale head” nya saya.

Semuanya serasa nyata. Dan dunia ini warna-warni. Seperti rasa bahagia berlebihan saat melihat cover majalah bobo. Seperti ada dunia lain yang bisa ditemukan dibalik cover majalah itu.

Bahkan cerita-cerita nabi, kisah-kisah sahabat nabi. Semuanya nyata. Terekam jelas di kepala. Seperti kita ada dan menyaksikan cerita itu. Pernah saya berdoa keras-keras minta mainan kepada Allah. Dan esok harinya, saya punya mainan baru di dekat tempat tidur. Tentu saja, Bapak yang beli. Tapi, karena hal sepeeti itu, saya jadi terbiasa minta apapun…harus berdoa dulu. Saya percaya. Sangat percaya, seperti Tuhan hadir. Menyaksikan. Melihat. Dia seperti “teman” yang setiap saat bisa diajak bercakap-cakap. Curhat. Mengeluh. Minta ini itu.

Kemudian kita menjadi lebih dewasa. Kita tidak baca buku dongeng lagi. Setelah hidup jauh dari orang tua. Kita menjadi berbeda. Dulu, kepala kita isinya warna-warni. Lukisan abstrak sana sini. Ramai dan menyenangkan. Sekarang ? Seperti rumah minimalis dicat seadanya abu-abu dengn kusen pintu warna hitam. Kelam dan datar.

Menjadi dewasa. Kita kehilangan banyak hal. Dan yang paling sedih adalah saat Tuhan seperti jauh sekali. Tidak seperti dulu, seperti teman dekat yang bisa kita ajak bercakap-cakap. Cerita ini itu tentang kehidupan. Kapan terakhir kali kita berdoa yang rasanya benar-benar berbicara dengan Tuhan ?

Kita semakin jauh. Bukan Tuhan yang berubah. Kita saja yang (sok) sibuk.

Nov 11, 2017

Selalu Salah

Entah aku yang terlalu perasa atau kamu yang sedang lelah atau memang aku yang selalu salah di matamu.

Sadarkah kamu bahwa perkataan yang keluar dari mulutmu akhir-akhir ini menjelma seperti pisau? Menyakitkan. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong.

Bahwa kamu yang serba lembut, serbamanis, dan tidak pernah marah hanya ada di masa-masa kita yang dulu. Jauh sebelum aku dan kamu melebur menjadi ‘kita’.

Dan sudah saatnya aku harus mereguk kamu-yang-kini. Yang sering menyayatkan kata-kata tajam. Walau aku tahu, kamu tidak pernah dengan sengaja mau melukai dan tidak ada maksud untuk melontarkan itu.

Tidak apa, sayang. Kujadi mengerti bahwa perubahan itu, memang benar-benar ada. Dan mungkin memang aku yang belum siap dengan perubahanmu.

Terlepas dari semua luka, laku, dan ucapmu yang menyakiti, namamu masih menjadi yang paling utama di sini dan yang kusebut dalam sepertiga malamku.

Walau aku seringkali mencoba menyamarkan posisimu dengan dua perkerjaan yang seringkali membuatku kelelahan.

Masih ada banyak hal tentangmu yang harus kusyukuri. Sebagian dirimu yang lain, yang pernah menorehkan kebahagiaan dan menjadikanku perempuan paling bahagia di dunia.

Saat ini diam sepertinya memang lebih baik. Sampai aku bisa menjadi lebih kuat dengan semua ucapmu. Dan aku akan menyiapkan topeng terbaik saat di depanmu kelak. Semoga kamu mengerti bahwa aku hanya perempuan biasa.

Maaf atas kurang-kurangku yang melelahkan. Maaf tak sebahagia yang kamu harapkan. Maaf tak semenyenangkan yang kamu kira.

Terima kasih sudah sangat menyenangkan dan menenangkan.

Nov 8, 2017

Secangkir Kopi Hitam


Sedikit terasa manis
Banyak berasa pahit
Tak ada rasa hambar

Namun, beberapa orang akan mengira secangkir minuman ajaib ini penghilang rasa galau- mempunyai rasa yang sangat pahit. Padahal menurut beberapa orang yang lain ini masih terlalu manis.
Bahkan parahnya minuman nikmat ini sekedar untuk penghilang dahaga di kerongkongan. Tetapi masih ada sebagian yang tahu cara menikmatinya.

Mungkin…

Begitulah hidup
Ada yang berpikir kenapa kehidupan ini terlalu berat untuk dijalani
Ada yang berpikir hidup ini hanya sekali, mari kita terima saja dan nikmati sebelum habis
Ada yang mengalami kehidupan ini begitu pahit namun dia tahu pahit ini tidak akan berarti jika kita tahu cara meresapi tersebut.

Minum bukan sekedar minum
Nikmat bukan sekdar nikmat


Dari dua sendok bubuk kopihitam, satu sendok gula.

Perempuanmu Bukan Sekadarnya


Ketika kau mencintai perempuan, cintailah ia melebihi cintamu pada fisiknya. Serupa nilainya yang lebih dari sekadar apa yang mata kalian pandangi; segala hal yang menempel pada tubuhnya.

Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Jangan anggap ia tak punya mimpi. Sehingga kau tak pernah menghargai segala jerih payahnya berproses ke depan. Jangan menganggapnya rendah. Hanya karena kau merasa berderajat lebih tinggi.

Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Menemanimu, ia ingin. Membersamaimu, ia mau. Hidup dan menjadi pasanganmu, ia bersedia. Namun jangan jadikan itu alasanmu untuk tidak memberinya pilihan yang lain. Tentu saja, pilihannya perlu untuk kaupentingkan juga.

Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Memerhatikanmu, ia akan sukarela. Berceloteh perihal mengkhawatirkanmu, ia tidak akan jera. Maka jangan menyuruhnya tidak lagi bersuara. Duniamu akan sepi, seperti tak berpenghuni lagi.

Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Ia bukan hanya perihal lekuk pada dirinya. Ia bukan perihal dada dan segala bagian pada tubuhnya. Ia istimewa. Lebih jauh dari apapun yang pernah kau pikirkan tentang cantik dan mulia.

Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Ia ratu dalam sebuah kerajaan, di mana kau adalah pemimpinnya. Maka selayaknya seorang raja yang hendak dianggap raja, perlakukan ia selayaknya seorang ratu, bukan pembantu.

Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Cintanya tak akan cukup kau tampung dalam lautan mimpi masa depanmu. Karena itu lebih luas dan lebih dalam, kau bahkan tak akan sanggup membayangkan.

Nov 6, 2017

Suamiku, Aku Ini Istrimu

Aku ini istrimu bukan hanya pacarmu.

Pada mantan pacarmu kamu bisa bersikap manis masak sama istrimu gak bisa.

Aku ini istrimu yang sedari dia bangun dari tidurnya yang ia pikirkan bukan lagi tentang dirinya tapi tentang seluruh kebutuhan jiwa mu. Lalu apa salahnya bersikap romantis setiap hari, karena sesungguhnya yang istrimu ini inginkan adalah kebahagian batinnya.

Jangan hanya lihat istrimu ini dari luarnya saja, sini lihat dalam hatinya, tengok hatinya. Didalam hatinya hampir diseluruh ruangannya cuma ada kamu. dia memang kelihatannya tenang tapi ketahuilah bahwa istrimu adalah wanita pencemburu yang dahsat.

Aku akan selalu merasa iri kenapa tidak aku saja yang menempati hal yang indah indah denganmu..

istrimu ini tidak akan pernah menunjukkan rasa cemburu, karena istrimu ini tidak ingin suaminya akan merasa tidak nyaman, ia akan hanya bergelut dengan dirinya sendiri didalam hatinya, istrimu ini akan hanya menyakiti dirinya sendiri dengan terus memikirkannya, bahkan dari saking ketakutannya, istrimu ini takut jangan jangan diam diam didalam pikiranmu kamu berpikiran:cantik ya mantanku sekarang, coba dulu aku sama si dia. Haah sampai sejauh itu loh,, jauuuh sekali kekawatirannya terhadap suaminya. Istrimu takut kamu selingkung meski hanya dalam pikiranmu saja…

Aku Rindu