Jika memang kau memilihku karena aku adalah yang terbaik dari
beberapa wanita yang masuk dalam kriteriamu. Aku tidaklah sedih ataupun
bangga.
Apa yang harus aku sedihkan? Apa karena aku dipilih
berdasarkan perbandingan dan pertimbangan yang menyatakan bahwa kau
tidak terlalu yakin akanku? Sungguh itu tidak menyedihkanku. Sebab yang
kau lakukan adalah logis, tentu kau akan memilih pendamping yang terbaik
untuk ibu dari anak-anakmu.
Apa yang harus aku banggakan? Apa
karena aku adalah wanita terbaik dari beberapa wanita, atau yang bisa
disebut akulah pemenangnya? Aku tidak ingin mendidik diriku menjadi diri
yang bisa mengalahkan orang lain. Sebab aku takut, bila aku mempunyai
jiwa yang tak mau dikalahkan.
Tetapi ketika aku menjadi halal bagimu. Sungguh aku ingin menjadi terbaik untukmu, agar kau tidak berpaling.
Anak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika
tata krama, sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang
tangguh, disenangi, dan disegani banyak orang.
Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah. Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima.
Mereka sanggup beli barang-barang mewah. Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan.
Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota. Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana.
Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan. Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan.
Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja. Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah.
Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya. Tapi juga tidak merendahkan orang yg lebih miskin darinya.
Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi. Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas, kapasitas
dirinya, bukan dari barang yang dikenakan.
Mereka punya.. Tapi tidak teriak kemana -mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya.
Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan, etika tata krama.
Hal hal sederhana tentang kesantunan seperti :
🔹Pamit saat pergi dari rumah,
🔹Permisi saat masuk ke rumah temen (karena ternyata banyak orang masuk
ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang
ada di rumah itu),
🔹Saat masuk atau pulang kerja memberi salam kepada rekan, terlebih pimpinan,
🔹Kembalikan pinjaman uang sekecil apapun,
🔹Berani minta maaf saat ada kesalahan,
🔹Tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun.
Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya.
Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup.
Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika tata krama, kesederhanaan.
Karena ini jauh lebih mahal dari pada sekedar uang.
Semoga kita dapat menjadi pendidik yang baik bagi para penerus bangsa.
Apa
yang hilang dari kita saat usia kita semakin bertambah?. Selain kita
kehilangan tahun-tahun yang begitu saja berlalu. Masa muda yang setiap
hari semakin “nggak muda”. Kita juga kehilangan hal lain.
Kepercayaan.
Ingat dulu waktu kecil, kita percaya kalau negeri dongeng ada. Lorong
waktu. Kerajaan. Peri-peri. Damn so real (atau cuma saya saja). Waktu
kecil saya percaya pada banyak hal. Bahkan pada hal-hal yang jika
sekarang saya mengingat-nya, saya akan tertawa mengenang betapa polos
dan “fairy tale head” nya saya.
Semuanya serasa nyata. Dan dunia
ini warna-warni. Seperti rasa bahagia berlebihan saat melihat cover
majalah bobo. Seperti ada dunia lain yang bisa ditemukan dibalik cover
majalah itu.
Bahkan cerita-cerita nabi, kisah-kisah sahabat nabi.
Semuanya nyata. Terekam jelas di kepala. Seperti kita ada dan
menyaksikan cerita itu. Pernah saya berdoa keras-keras minta mainan
kepada Allah. Dan esok harinya, saya punya mainan baru di dekat tempat
tidur. Tentu saja, Bapak yang beli. Tapi, karena hal sepeeti itu, saya
jadi terbiasa minta apapun…harus berdoa dulu. Saya percaya. Sangat
percaya, seperti Tuhan hadir. Menyaksikan. Melihat. Dia seperti “teman”
yang setiap saat bisa diajak bercakap-cakap. Curhat. Mengeluh. Minta ini
itu.
Kemudian kita menjadi lebih dewasa. Kita tidak baca buku
dongeng lagi. Setelah hidup jauh dari orang tua. Kita menjadi berbeda.
Dulu, kepala kita isinya warna-warni. Lukisan abstrak sana sini. Ramai
dan menyenangkan. Sekarang ? Seperti rumah minimalis dicat seadanya
abu-abu dengn kusen pintu warna hitam. Kelam dan datar.
Menjadi
dewasa. Kita kehilangan banyak hal. Dan yang paling sedih adalah saat
Tuhan seperti jauh sekali. Tidak seperti dulu, seperti teman dekat yang
bisa kita ajak bercakap-cakap. Cerita ini itu tentang kehidupan. Kapan
terakhir kali kita berdoa yang rasanya benar-benar berbicara dengan
Tuhan ?
Kita semakin jauh. Bukan Tuhan yang berubah. Kita saja yang (sok) sibuk.