Dalam banyak satuan waktu, kita
seringkali memacu diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik dan bahkan
menjadi yang terbaik. Merasa ingin mencapai atau menjadi sesuatu, kita
pun sibuk mengakselerasi diri dalam berbagai sisi. Kita berupaya untuk
bisa menjadi lebih baik, menjadi yang terbaik. Pernahkah merasakan dan
melakukan hal yang sedemikian?
Saat merasa tidak memiliki cukup banyak teman, kita berupaya untuk
melakukan hal-hal yang lebih baik agar bisa diterima secara sosial. Saat
melihat standar cantik atau tampan terpapar di media, kita berupaya
untuk memoles, mengurangi dan menambahkan ini dan itu agar menjadi sama
dengan standar idaman. Saat organisasi impian yang dituju mensyaratkan
banyak kualifikasi, kita sibuk mencari cara agar bisa menambah
detail-detail prestasi yang termuat dalam CV. Saat mengetahui
lelaki/perempuan yang kita incar hatinya mempersyaratkan ini itu, kita
pun bersemangat memenuhi semuanya. Begitulah, dan masih banyak lagi.
Intinya, selalu ada upaya-upaya perbaikan diri yang kita lakukan untuk
sesuatu yang menurut kita layak untuk diperjuangkan.
Pertanyaannya adalah, ketika kita ingin memperbaiki diri agar menjadi
yang lebih baik atau terbaik, standar baik siapa yang kita gunakan?
Versi siapa yang kita jadikan acuan?
Apakah kita melakukan perbaikan diri agar bisa menjadi yang terbaik
versi kita sendiri? Versi orangtua? Versi teman sepergaulan? Versi
kantor atau organisasi idaman? Versi media? Versi pasangan idaman? Atau
versi calon mertua? Hmm, pernahkah terbersit di pikiran bahwa kita
haruslah menjadi yang terbaik versi Sang Pencipta?
Memperbaiki diri itu butuh waktu, tenaga dan pengorbanan. Jika alasan
yang mendasarinya adalah tentang urusan dunia, bukankah itu tanggung?
Mengapa tidak langsung saja menjadikan Allah dan akhirat sebagai alasan?
Tahukah kamu, dalam lelah yang sama, bisa saja kita mendapatkan yang
berbeda : ada yang hanya dapat dunia, ada yang dapat dunia sekaligus
akhirat. Pilih yang mana?
Apapun alasan perbaikan dirimu sebelumnya, ayo kita luruskan
sekarang! Ayo kita bersama-sama menjadi yang terbaik menurut versi-Nya.
Semoga di hatimu hanya ada Allah dan akhirat sebagai alasan yang hakiki.
Karena kita tak pernah tahu kapan kita akan mati. Mungkin saja sebentar
lagi, ketika kita belum selesai memperbaiki diri.
Kesempatan-kesempatan baik seringkali
datang pada waktu yang bersamaan. Banyak hal baik hadir berbarengan
menuntut untuk dipilih dan diprioritaskan. Kemudian kita menjadi
bingung, karena egoisme kita berkata bahwa tak ada satu pun diantara
semuanya yang ingin kita lewatkan. Lalu kita berandai-andai, kalau saja
diri kita bisa dibelah dua, kalau saja waktu bisa lebih dari 24 jam.
Maka, disinilah kita perlu keberanian untuk berkata tidak.
Tidak semua kesempatan baik harus kita raih. Tidak semua kegiatan
baik harus kita lakoni. Tidak semua kebersamaan harus kita hadiri. Tidak
semua tarikan kebaikan harus kita ikuti. Disinilah letak keberanian
untuk menolak dan berkata tidak. Disinilah juga letak seni menentukan
prioritas. Lakukanlah yang mampu kita lakukan dengan optimal, jangan
malah membebani diri dengan pilihan-pilihan yang ternyata tidak mampu
kita pertanggungjawabkan.
Ayo jatuhkan pilihan! Baik bagi otakmu harus juga baik untuk tubuhmu,
tidak baik jadinya jika berakhir dengan mengorbankan kesehatan. Baik
bagi dirimu harus juga baik bagi sekitarmu, tidak baik jadinya jika
disana tidak terletak kebermanfaatan. Baik bagi duniamu harus juga baik
bagi akhiratmu, tidak baik jadinya jika berakhir dengan melupakan
akhirat dan hari akhir.
Selamat menentukan prioritas, selamat menjatuhkan pilihan!
Semua orang adalah orang penting. Kita semua adalah pemeran utama
yang sudah pasti penting. Tidak ada satu pun dari kita yang tidak
penting. Hanya saja, tidak semua orang dapat memahami bahwa mereka
penting.
Kita adalah pemeran utama bagi diri dan kehidupan
yang kita jalani. Semua kisah hidup, peran, hak, kewajiban dan
tanggungjawab di pundak kita adalah milik kita yang tidak bisa kita
tukar dengan milik orang lain. Itulah mengapa kita menjadi penting. Ya,
kita adalah pemeran utama di dalam skenario yang telah dituliskan-Nya
untuk kita. Apakah kita bisa menuntut Allah untuk memberi kita pemain
cadangan? Tidak, bukan?
Kita adalah pemeran utama dan kita
harus menjadi professional dalam menjalaninya. Bagaimana seorang pemeran
utama dapat menjadi professional? Tentunya dengan meminimalisir
keluhan, meninggikan kepercayaan diri pada kemampuan dan patuh kepada
Dia yang memberi peran.
Tidak perlu ada yang merasa terluka karena kepergian, keputusan yang
telah ia buat tak akan berubah hanya karena kau merasa terluka.
Menangislah karena kepergian seseorang tapi jangan berlama-lama, kuatlah
demi hatimu sendiri, bila kepergiannya membuat kau terluka lantas apa
yang kau sisakan untuk oranglain yang lebih menghargai hatimu?
Tidak
perlu ada yang merasa terluka karena kepergian. Karena seberapa kuatpun
kau menahannya malah membuat kau merasa lebih terluka, relakan dan
biarkan saja ia pergi, iringi dengan doa paling baik yang kau bisa.
Bukankah kau mengerti bahwa doa adalah sebaik-baik penjagaan?
Duhai,
tak perlu merasa terluka karena kepergian. Esok lusa kau akan mengerti
mengapa ia pergi, mengapa ia meninggalkan kau. Walaupun ia tak pernah
menjelaskan apapun tentang kepergiannya, tapi sungguh kau akan mengerti
suatu hari nanti.
Kau boleh bersedih karena ditinggalkan, tapi
jangan berhenti berjalan. Akan ada tangan baik hati yang mau menolongmu,
yakinilah bahwa Tuhan amat mencintai kau dan akan Tuhan kirimkan orang
yang paling pantas menjagamu.
Tidak perlu ada yang merasa terluka karena kepergian, sungguh tidak perlu.
Bagimana rasanya, jatuh di tempat yang sama berulang kali?
Itu
bukan salahmu bila kau telah memutuskan jatuh disana berulang kali.
Nyatanya, kau tak merasakan sakit apapun bahkan ketika luka disana-sini,
ketika orang lain mencoba mengeluarkanmu dari perasaan itu, kau malah
enggan untuk ditolong. Lalu yang harus kau lakukan adalah, meyakini
seberapa pentingnya dia hingga kau rela jatuh disana berulang kali.
Tak
ada yang salah dengan jatuh ditempat yang sama berulang kali, kau hanya
perlu bersyukur bahwa kau masih diberi Tuhan kesempatan memperjuangkan
apa yang kau yakini. Bersyukur saja, karena jatuh dan luka adalah hal
yang pasti datang bersamaan.
Bukan hal yang tak baik ketika kau
jatuh pada tempat yang sama berkali-kali. Tak ada yang salah dalam jatuh
cinta, sampai kau kehilangan akal sehat dan keimananmu.
Bagi kebanyakan perempuan, menikah adalah seperti menemukan kepingan
puzzle terakhir yang akan menggenapkan seluruh gambaran besar
kepingan-kepingan kehidupannya. Menikah dibayangkan seperti adanya
seorang pangeran berkuda yang datang dengan menawarkan hidup yang penuh
dengan kebahagiaan. Kemudian, yang terlintas di pikiran adalah tentang
pernikahan impian, gaun teranggun, riasan wajah tercantik, sampai
kehidupan cinta ala fairy tale.
Bagi kebanyakan laki-laki,
menikah adalah seperti menemukan pelabuhan terakhir atau rumah untuk
pulang setelah melakukan banyak perjalanan. Menikah dibayangkan seperti
adanya seorang permaisuri yang bersedia diajak menyusuri jalan setapak
perjalanan. Kemudian, yang terlintas di pikiran adalah tentang seseorang
yang akan membantunya mengurusi banyak detail tentang kehidupannya.
Tapi,
jika ternyata menikah adalah tentang serangkaian kompetensi, apa
pendapatmu? Bayangkanlah, untuk melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan
saja kita membutuhkan kompetensi yang jelas dan terukur agar dapat
diterima, apalagi untuk menjalani kehidupan pernikahan, bukan?
Hmm,
jadi begini, setiap manusia lahir dengan potensi yang dimiliki. Potensi
berarti sesuatu yang dibawa sejak lahir, namun bisa saja tidak muncul
karena tidak pernah diasah atau diberi kesempatan untuk berkembang.
Potensi sifatnya masih belum terlihat, dan potensi yang sudah
dimunculkan dalam bentuk perilakulah yang kemudian dinamakan kompetensi. “Masalahnya, menikah itu tidak hanya membutuhkan
potensi, tapi membutuhakan kompetensi yang detail yang muncul dalam
perilaku-perilaku yang terukur.”
Nah lho, menikah ternyata
butuh kompetensi! Kompetensi apa saja? Banyak! Diantaranya adalah
kompetensi dalam hal keimanan, pengasuhan, hidup sebagai pasangan,
kehidupan sosial, kematangan berpikir, kedewasaan bersikap, dll. Semuanya
butuh persiapan, ilmu dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Maka,
benar adanya bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan dalam masa menunggu
adalah memperbaiki diri.
Lantas, masihkah kamu berpikir
bahwa menikah hanyalah tentang romansa dua orang yang jatuh cinta lalu
memutuskan untuk hidup bersama?