Sep 6, 2014

Ketakutan


Adalah ketakutan yang seringkali bersembunyi di balik kegagahan. Disimpannya rapat-rapat ketakutan itu. Takut orang lain tahu.

Adalah ketakutan yang seringkali menyulap janji menjadi harapan bagi orang lain. Meski tak sedikit yang nyatanya palsu. Diantara mereka ada yang sibuk menebar janji, dan yang lain sibuk mempercayainya.

Adalah ketakutan yang seringkali membuat manusia hanya mampu berpindah tempat, tanpa sanggup berpindah hati.

Adalah ketakutan yang seringkali diulang-ulang dalam skenario hidup kita. Dengan itu kita begitu menghafalnya, seperti refrain dalam lagu-lagu. Yang pada akhirnya berhasil mengubah cara pandang kita memandang masa lalu: menertawainya bersama.

Adalah ketakutan yang seringkali diberangkatkan bersama waktu, yang katanya mampu mengobati hal-hal tertentu, termasuk luka dalam perasaanmu.

Adalah ketakutan yang seringkali membunuh akal sehat. Dicemaskannya berkali-kali. Takut diambil orang. Padahal rezeki tak pernah tertukar. Jika Allah tidak menakdirkan sesuatu (atau mungkin seseorang?) untuk kita, niscaya ia takkan pernah datang. Selama apapun kita menunggunya.

Adalah ketakutan yang seringkali menjelma menjadi kekuatan. Ibu dan ayahmu, misalnya. Ketakutannya kehilangan dirimu, membuat gravitasi seakan-akan berpusat padamu. Ia memperjuangkanmu, hidupmu, bahagiamu, semuanya. Bahkan mungkin hingga engkau sebesar ini.

Adalah ketakutan yang seringkali menjelma menjadi kegigihan. Sumayyah, ingatkah pada perempuan itu? Ketakutannya pada Pemilik Langit, membuat luka menganga tiada artinya. Jeritnya telah menjadi saksi, bahwa surga telah didekatkan padanya.

Adalah ketakutan yang seringkali menyulap kisah-kisah tidak mengenakkan, menjadi lebih pantas disyukuri.]

Adalah ketakutan yang sanggup memendekkan jarak seseorang dengan apa yang sempat ditakutkannya.

Adalah ketakutan yang seringkali menjelma menjadi dirimu kini.
Jadi sampai disini, apa sebenarnya ketakutan terbesarmu?



Jangan Memberi Nasehat atau Saran Kalau Tidak Diminta


ANEH? Tidak. Sebab kenyataannya banyak orang memberi nasehat atau saran kepada orang lain yang bercerita tentang masalah yang dihadapi. Padahal, dia tidak bermaksud meminta nasehat atau saran. Hal ini semata-mata banyak orang Indonesia yang kurang memahami aspek kejiwaan orang lain. Sehingga muncullah kebiasaan buruk yang seharusnya tidak perlu terjadi. Logikanya: “Tidak meminta kok diberi”.

Kenapa orang menceritakan masalahnya tetapi tidak meminta nasehat atau saran kepada Anda?
Antara lain:
-Sekadar bercerita agar orang lain tahu kalau dia punya masalah
-Hanya sekadar bercerita untuk mengurangi beban psikologisnya
-Hanya ingin bercerita saja daripada tidak ada yang diceritakan
-Hanya ingin mengetahui respon atau tanggapan Anda
-Ingin memancing reaksi Anda
-Ingin mengumpulkan pendapat untuk bahan artikel atau buku yang akan diterbitkan
-Untuk mengetahui kadar berlogika Anda
-Ingin mengetahui pola pikir Anda
-Ingin memancing bahwa Andapun punya masalah dan seseorang itu ingin mengetahui masalah Anda
-Sebenarnya sudah tahu solusinya tetapi belum dilakukan
-Apa yang akan Anda katakan sebenarnya sudah dia pikirkan dan sudah dia lakukan
-Ada orang yang tersinggung kalau diberi nasehat atau saran, sebab dia sesungguhnya lebih tahu masalahnya dan tahu solusinya dibandingkan orang lain
-Jika Anda memberi nasehat atau saran padahal tidak diminta, bisa menimbulkan kesalahpahaman
-Dan motivasi lainnya yang pada dasarnya tidak ingin meminta nasehat atau saran Anda


Lantas, bagaimana sikap Anda sebaiknya?
-Sebaiknya sebagai pendengar yang baik
-Biarkan dia bicara sepuas-puasnya
-Jika perlu bertanyalah sebanyak-banyaknya
-Berikan rasa simpati dan empati Anda kepadanya
-Jangan sesekali menyalahkan apalagi menggurui
-Jangan sesekali memberi nasehat atau saran


Memberi nasehat atau saran kalau diminta
Nah, saatnya dia meminta nasehat dan saran, berilah nasehat dan saran dengan syarat Anda benar-benar memahami masalahnya dan memahami “teori solusi” atau “decision making” atau “flowchart thinking” atau “pohon keputusan” atau nasehat yang benar-benar  realistis sesuai kemampuan, situasi dan kondisi yang bersangkutan.

Nasehat dan saran yang baik
Antara lain:
-Sebelum memberi nasehat atau saran, tanyakan dulu apa yang telah dilakukannya
-Fokus anya pada masalahnya
-Jangan membandingkan dengan masalah Anda atau masalah orang lain
-Jangan terkesan menggurui, sok mengerti atau sok tahu
-Nasehat atau saran harus realistis sesuai dengan situasi dan kondisi yang bersangkutan
-Menggunakan metode bertanya
-Sesuai kemampuan yang dimiliki seseorang ang memnta nasehat atau saran
-Berikan alasan (satu nasehat/satu saran satu alasannya)
-Berikan kebaikan dan keburukan nasehat/saran Anda
-Berikan motivasi


Memberi nasehat dan saran tidaklah mudah
Asal memberi nasehat/saran memang mudah. Bahkan sangat mudah. Tetapi memberikan nasehat/saran yang benar-benar sesuai dengan masalah yang dihadapi seseorang tidaklah mudah. Karena, banyak hal yang harus dipahami. Antara lain:
-Harus memahami masalah
-Harus memahami situasi dan kondisi d mana masalah itu terjadi
-Harus memahami kepribadian ataupun watak si peminta nasehat


Kekecualian (berlaku secara umum, tidak kepada per pribadi atau per kasus)
-Memberi nasehat kepada anak-anak, murid-murid,mahasiswa-mahasiswa atau warga-warga
-Memberi nasehat kepada para narapidana
-Memberi nasehat kepada sahabat-sahabat dekat Anda atau orang-orang dekat Anda
-Memberi nasehat kepada para pengemudi kendaraan terutama saat mudik
-Memberi nasehat (semangat) kepada orang yang sakit atau dirawat di rumah sakit
-Memberi nasehat terhadap orang-orang yang cara bernalarnya keliru (apalagi di bidang agama)
-Memberi saran pada akhir sebuah skripsi
-Memberikan saran kepada pemerintah agar meningkatkan pelayanan publik
-Memberi saran buanglah sampah pada tempatnya
-Memberi saran agar tidak merokok di angkutan umum atau di tempat umum
-Dan lain-lain.


Kekecualian
-Anda menulisnya dalam bentuk artikel ataupun buku
-Artikel atau buku bersifat umum dan hanya berlaku untuk yang membutuhkan

Misalnya:
Artikel atau buku berjudul “Mari Belajar Ber-“Positive Thinking”
Buku yang berisi nasehat atau saran ini hanya ditujukan untuk yang membutuhkan. Bagi yang tidak membutuhkan tidak perlu membeli dan tidak perlu membacanya.

Salah memberi nasehat/saran, bisa fatal akibatnya
Kadang-kadang bisa terjadi, ketika seseorang melaksanakan nasehat/saran Anda, justru akibatnya sangat fatal.
Misalnya:
Anda menyarankan kepada seorang isteri untuk meminta cerai secara baik-baik, karena hampir tiap hari dianiaya suaminya. Ketika nasehat Anda dilaksanakan, justru suaminya marah luar biasa. Dan malam harinya, isterinya dibunuh.

Nah loh, bagaimana?


Aku Rindu