Biarkan bisu menenggelamkan kata-kataku. Biarlah doa menjadi
satu-satunya bahasa rinduku yang di alamatkan padamu melalui Tuhan-ku.
Daripada harus membunuh setiap detik senyum yang seharusnya bisa
menghiasi wajahku, tapi mati karena ketakmampuanku melayangkan kata yang
tepat ketika berada di hadapanmu.
Mungkin memang begini caraku mencintaimu—bersembunyi di balik laman
biru tua sambil mengeja setiap kata yang tertuang dalam huruf-huruf dari
jemarimu.
Mungkin memang begini caraku membahasakan rindu—berdoa diam-diam di
sepertiga malam dan menyebut dengan jelas namamu dalam keheningan.
Akan kupercayakan pada Tuhan segala perasaan yang hingga kini masih
aku simpan. Segala sesuatu akan indah pada waktu yang tepat menurut-Nya.
Pasti.
Sering kita merasa tidak bahagia disebabkan oleh
kebahagiaan orang lain. Kita disibukkan oleh membicarakan kebahagiaan
orang lain hingga lupa bahwa kita juga memiliki kebahagiaan itu.
Lebih sering-sering lah kita “memotret” diri sendiri daripada
“memotret” orang lain. Cukuplah kita “memotret” kebahagiaan orang lain
dengan cara turut bahagia, bersyukur apa yang telah mereka dapat. Dan
hasil “potret” itu bisa menjadi pembelajaran dan pengingat bagi kita
bahwa kita juga memiliki kebahagiaan yang sama.
Sesungguhnya potret kebahagiaan itu ada pada diri kita sendiri, bukan
orang lain.
Jangan lupa bersyukur dan bahagia.
Kamu, kita pantas untuk bahagia.
Karena perjalanan tak selamanya di daratan.
Perjalanan badai ombak mungkin salah satu yang akan kita jumpai. Dimana
kita terombang-ambing oleh pilihan. Ragu akan mengambil keputusan.
Menuju impian tidak cukup dengan harapan. Persiapkan perbekalan. Karena
perjalanan ini tidak lah sesederhana yang kita bayangkan. Penuh
kesabaran dan kuatnya keteguhan.
Perjalanan ini suatu saat pasti akan sampai pada tujuan. Jika tidak sampai, setidaknya Tuhan tahu bahwa kita telah mengusahakan.
Jangan
berhenti jika kita ingin sampai. Istirahatlah sejenak, karena
perjalanan ini butuh kesabaran untuk sampai. Butuh keikhlasan jika
nyatanya tidak sampai. Sama seperti menujumu.
Bagimu perempuan,
Kadang kamu terlalu menjadi perempuan.
Terlalu cantik, terlalu hebat, terlalu pintar.
Hingga lelaki begitu enggan mendekat, bukan karena tidak ingin.
Mereka kadang merasa rendah dari apa yang ada dalam dirimu.
Aku tau, perempuan memang begitu ingin terlihat “sangat”
Mereka ingin menjadi pintar agar bisa menjadi perempuan hebat.
Sering lupa, bahwa akan ada peran lelaki yang akan mengajak mu berjalan.
Akan ada lelaki yang akan mengoreksi apa yang harus kamu perbaiki.
Sesekali copot mahkota yang ada diatas nafsumu, agar apa yang ingin kau
perlihatkan “sangat” menjadi mampu membuat lelaki melihat mu sederhana.
Kamu tidak perlu berpikir bahwa kamu murahan, jika kamu tak memperlihatkan kehebatan kamu.
Jika kamu lemah, biarkan kelemahan itu menjadi sesuatu yang bisa menjadi
“sangat” untuk lelaki, menemani mu yang lemah, yang lelah, yang gundah,
yang merasa tak tau banyak hal, yang ingin dimengerti