Sep 15, 2017

Perempuan Dan Senja

Perempuan penyuka senja itu petualang; penerjemah kehidupan yang ulung, sekali waktu perempuan penyuka senja akan membahasakan dirinya sendiri, katanya: “aku menyukai senja sebab kupetik satu pelajaran berharga darinya, selalu datang terlambat namun memberi kepastian; sesuatu yang indah, dan mendamaikan-serupa dengan perasaan cinta, kadang kesadaran mencintai datang terlambat namun akan jadi pelajaran berarti sepanjang hidup.”

Perempuan penyuka senja itu memiliki satu pedoman, “jangan terlambat menyadari ketulusan seseorang yang mendampingimu saat ini, meski kesabaran tak ada batasnya; namun bisa jadi pendampingmu saat ini akan merasa jenuh apabila segala yang dilakukannya belum dihargai dengan pantas-serupa senja, tulus memberi warna namun berlalu bila kita tak menyimpannya dalam ingatan untuk kita sapa kembali di esok hari.”

Perempuan penyuka senja itu sadar, “bila seseorang yang melakukan pendampingan cinta mengalami kejenuhan yang memuncak, ia akan pergi dan kamu akan menyesal karena gagal memahami arti cinta sejati-ialah siapa pun yang membuatmu berharga di matanya, sehingga selepas seseorang itu pergi kamu tak sanggup membayangkan hidup tanpanya, serupa senja keberadaannya membuat nyaman hingga kadang kala kamu lupa memotretnya dalam mata jiwa, tiba-tiba senja pergi dan kamu merasa begitu kesepian tanpanya.”

Sep 13, 2017

Masa Lalu

Masa lalu tidak perlu sengaja kamu ajak, karena dia akan tetap mengikuti. Meski begitu, jangan jadikan ia bayang-bayang. Biarkan saja, cukup dijadikan pelajaran. Suatu saat nanti, kalau memang dibutuhkan, kamu cukup menoleh kebelakang, untuk sejenak mengulang pembelajaran.

Masing-masing dari kita tentu memiliki masa lalu, meski tidak sepenuhnya baik-baik saja. Dan untuk yang cukup membekas di hati kita, baik ataupun buruk, masa lalu itu sedikitpun tidak akan pernah hilang. Mungkin sesaat akan lupa, tapi akan tetap ada.

Mereka bilang, kalau masa lalu akan berlalu begitu saja seiring waktu. Sejauh yang aku tahu, lupa tidaknya masa lalu bukan tentang waktu. Karena sebenarnya diri sendiri yang bisa memilih, kembali mengingat-ingat, atau lebih memilih untuk memafkan.

Tulusnya maaf lah yang akan menjadi obat, lalu biarkan ketulusan berdua bersama waktu, mereka akan menyembuhkan meski perlahan. Karena waktu, jalan panjang tempat kita menaruh keputusan, tidak bisa bekerja sendirian. Tanpa ketulusan maaf, waktu hanya akan membiarkan yang luka menjadi semakin menganga. Perasaan yang tulus, hanya bisa datang dari dalam hati. Dan hanya pemiliknya sendirilah yang paling bisa memahami. 
Bagaimanapun keadaannya, pemiliknya bisa menjelmakan hatinya menjadi setinggi langit, juga seluas lautan. Tapi juga tetap harus bersiap, karena langit sesekali akan dirundung mendung, lalu menangis bersama hujan. Lautan pun juga bisa surut, tetap dengan hantaman ombaknya yang seringkali menghanyutkan.

Sebuah Perpisahan

Kelak tiba tanggal dimana orang-orang datang menghadiri sebuah perpisahan. Tidak ada jamuan dan cengkrama hangat. Semua tangan memiliki selembar tisu untuk menghapus duka dari pipinya. Yang ada hanyalah doa-doa yang melangit dan malaikat-malaikat yang datang dengan pertanyaan mereka masing-masing selepas bunyi langkah-langkah kaki berangsur pergi.

Kelak rumahmu kehilangan satu pemain yang telah lama mengiringi sepanjang panggung hidup. Kelak kursi di sebelahmu kekurangan satu orang yang selalu kauajak berbicara. Dan kelak nomor yang kautuju takkan bisa dihubungi lagi.

Jangan salahkan diri sendiri bila rasa-rasanya sudah terlambat berpamitan. Semua memang sudah ada waktunya. Memang kitanya saja yang tidak pernah diberi tahu kapan datangnya. Syaraf-syaraf kita memang tidak dirancang untuk merefleks hal yang demikian. Intuisi kita memang tidak ditanam untuk meramal hal yang demikian. Emosi kita hanya bisa merespon sedemikian rupa, mengalahkan logika yang dipatahkan oleh segala bentuk rasa.

Matahari memang selalu terbenam pada waktunya. Kelak ia akan terbit lagi dengan sesuatu yang baru. Hanyutkan saja namanya ke langit-langit dengan harap kau bisa bertemu lagi dengannya kelak.

Sep 12, 2017

Harta, Tahta Dan Wanita.

Tiga godaan yang lazim sejak dahulu kala adalah godaan harta, tahta dan wanita.

Demi harta orang bisa saling sikut, saling jegal bahkan saling bunuh. Penyakit menghalalkan segala cara itu mesti dibuang, penyakit bakhil mesti disingkirkan. Mencarinya jangan mengorbankan hati nurani, mendapatkannya pula jangan sampai melekat dalam hati.


Wanita juga godaan, karena wanita punya sesuatu yang sangat dibutuhkan laki laki, wanita seperti sarang bagi burung, memberi rasa nyaman. Mendapatkannya pun bisa menghalalkan segala cara, setelah dapat jangan sampai timbul kemelakatan.


Tahta adalah juga godaan besar, rupa tahta adalah pangkat, jabatan, rasa hormat dari orang-orang, mendapatkannya pun orang bisa menghalalkan segala cara, setelah dapat, jangan pula timbul kemelekatan.


Kemelekatan terjadi karena "terbiasa" dengan hal hal tersebut, sampai keenakan, tidak terasa bisa timbul kemelekatan.


Maka harus waspada, kemelekatan adalah penyakit yang membuat jiwa menjadi berat dan tidak akan mampu untuk membumbung tinggi, suci murni robbani. Karena kecintaan kepada hal hal itu yang terlalu melekat, membuat kita menjadi lebur dengan apa yang dicintai, dan melekat, lalu jadi berat.


Nikmati apa yang bisa dinikmati, latih diri jangan sampai melekat dengan kenikmatan.

Tentang Cinta

Cinta tidak selamanya membawa bahagia, kadang juga membawa duka.
jika takut akan sakit dan dukanya, maka jangan pernah berhubungan cinta.

Dalam percintaan, telah banyak orang yang menjadi bahagia karenanya, banyak juga yang jadi korbannya, mulai dari korban hartanya, kesuciannya, perasaannya.


Jika takut mengalami kekecewaan, jangan pernah bermain main cinta.
Jangan karena urusan cintamu gagal, lalu timbul dendam dalam hatimu. sedangkan engkau tahu resiko resiko yang mungkin kamu terima dalam percintaan.


Mengapa masih nekat main cinta cintaan?

Jika cinta mengantarkan kepada kebahagiaan, maka itu patut engkau syukuri.


Jika cinta mengantarkanmu pada kekecewaan, jangan dendam, atau jangan pernah bercinta, maka engkau tidak bakalan kecewa karena cinta.

Berani bermain cinta, berarti berani terkena resiko kekecewaan dalam cinta.


Jangan mencari kambing hitam atas kegagalan kisah cintamu, karena semuanya kesalahan yang bersumber dari dirimu sendiri.


Berani main cinta, tapi takut kecewa.

Aku Rindu