Jul 22, 2016

Budaya Celana Pendek Yang Seharusnya Dipakai Pelacur



Celana pendek yang seharusnya dipakai para hostest (pelacur) di jalanan Barat dan Amerika, kini dipakai juga oleh para wanita Indonesia..

Abad modern, sebuah jaman dimana manusia mengobrol dengan mewahnya dunia. Dan berikrar seakan tak menginginkan Tuhan ikut campur dalam hidupnya. Budaya kebebasan yang tak mengerti batas ‘bebasnya’. Membuat banyak wanita diperhadapkan dengan kebingungan peradaban. Antara etika dan non – etika. Antara bertahan atau pergi dari sebuah tradisi kesopanan. Mengingat wanita adalah simbol visualisasi dunia, benarkah etika kesopanan masih bertengger pada pribadinya? Ataukah dunia modern lebih menguasai etika kesopanannya?

Ketika itu, masih sangat membekas di pikiran seorang etika. Betapa indah kain batik yang menutupi selongsong tubuh wanita Indonesia. Mewahnya gaun korset panjang ala noni – noni Belanda yang dipakai saat berada di tanah jajahan. Apalagi dengan ketatnya etnosentrime yang dipakaikan masyarakat kepada wanita – wanita pribumi dan Belanda. Tata cara berpakaian sopan, dan tak boleh dilanggar – langgar. Membuat etika semakin dihormati.
 
Entah kenapa akhir – akhir ini, etika mengalami kegelisahan. Banyak wanita melanggar tata cara berpakaian. Memakai sebuah celana pendek (baca : sependek paha, atau setengah paha) dan terkadang pakaian atasan hanya memakai kemben saja, atau pakaian tanpa lengan dan (maaf) terlihat bagaian dalam pakainnya tipis, yang bahkan tidak anggun sama sekali bagi seorang wanita berkelas. Tertukarkah penghargaan diri seorang wanita dengan sebuah celana pendek?

 Lihat saja di jalanan tempat berkumpulnya kaum muda, lampu merah, tempat perbelanjaan, atau di depan mesjid sekaligus, tak pandang pedesaan atau perkotaan. Tante – tente, emak-emak, atau remaja, tampaknya, celana pendek sudah menjadi ‘tren’ kebebasan. Mereka beranggapan, “tanpa itu, kami tak kelihatan cantik, dan dilirik banyak mata lelaki. Kami benar – benar mencintai hotpants (celana pendek) seperti mencintai diri sendiri. Memang pertama malu memakainya, tapi lama – kelamaan begitu terlihat seksi”. Tak menutup realitas, memang terlihat menarik saat dipakai di jalanan, apalagi sembari mengendarai kendaraan bermotor. Mata lelaki mata yang tak akan ‘jelalatan’ melihatnya? Bahkan pikiran pun bisa – bisa liar melihat pemandangan tersebut, jangan heran jika nantinya angka kriminalitas (ex:pemerkosaan) semakin tinggi. Nilai – nilai moral yang dulu tertata juga menjadi rancu jika budaya ini diteruskan.

Padahal kalau kita punya anak yang masih kecil, pasti kita mendidiknya dengan benar-benar perhatian, dan jangan sampai salah didik, karena apa yang kita sampaikan pasti akan terekam selamanya di pikiran anak-anak kita, misalkan kita ngasih contoh kepada anak kita yang masih belajar cara berpakaian dll. "Adik kalau mau sekolah pakainya seragam yang ini, kalau mau bobo' pakainya piyama yang begini", lah kalau mau jalan pasti dong kita ngasih pakaianya yang sopan kepada anak kita. Lah sekarang kalau kita mendidik ke anak-anak kita berpakaian sopan, kenapa emak-emaknya berpakaian ala pelacur? Nah jangan salahkan anak-anaknya dong jika nanti anak beranjak remaja meniru kelakuan emaknya berdandan seperti pelacur.

Memang, kalau dipikir manusia itu munafik, dulu begitu mencaci maki, cara berpakaian para pelacur, tetapi sekarang kadang berbeda 180 Derajat, para pelacur sekarang banyak yang pakai busana tertutup loh, sedangkan sebagian wanita (Yang Katanya Bukan Pelacur) memakai celana luar yang hampir seukuran (Maaf) celana dalam. ataukah memang realitanya sekarang mulai banyak wanita yang bukan pelacur tetapi kelakuannya hampir sama dengan pelacur, bedanya mereka tidak memungut bayaran ketika telah melakukan perbuatan yang biasa dilakukan oleh PELACUR, Entahlah, meskipun tidak semua wanita berkelakuan seperti itu.

Tetapi kalau saya melihat di media sosial atau facebook jaman sekarang, Ya Tuhan.., wanita sekarang malah memperlihatkan paha gratis, padahal paha ayam di pasar mahal loh, ada juga yang memperlihatkan belahan dada gratis, remaja yang masih belia, tante-tante genit, apa lagi emak-emak yang sudah punya anak ABG, dan remaja gak mau kalah dan gak mau ketinggalan, emak-emak narsis dengan gaya bibir di moncong-mocongin ke depan, lidah di julur-julurin, hedeh..., ampun dech tepuk jidad saya, gayanya persis seperti emak-emak pelacur yang jablay. Saya percaya tidak semua emak-emak berkelakuan liar seperti itu, karena saya yakin semua ada tempatnya.

Bagi saya pakaian yang sopan tidak harus pakai kebaya kok, tapi yang saya heran sekarang seakan celana pendek telah menjadi Tuhan bagi wanita. Tidakkah itu pemujaan yang terlalu berlebihan? Celana pendek yang seharusnya dipakai para purel, perek, psk, dan hostest (pelacur) di jalanan Barat dan Amerika, kini dipakai juga oleh para wanita Indonesia, dimana letak etikanya? Ayolah, masih banyak pakaian sopan dan mewah yang bisa dijadikan tren!

Seandainya masih hidup, Kartini mungkin akan menangis sejadi – jadinya kale ya. Dia ingat bahwa dulu emansipasi yang diperjuangkannya bukanlah seperti ini. “Aku berjuang untuk martabat kaum perempuan, mengapa justru martabat ini tak dimiliki oleh banyak perempuan sekarang?” Celana pendek, rasanya tak pantas menjadi budaya. Etika pun benar – benar telah gelisah melihat peradaban tersebut (Bernard, “Etika Lintas Sosial Budaya”).

Tiada melarang sebenarnya. Hanya, jika larangan itu dicabut, kemana larinya sebuah etika? Maukah celana pendek bertanggung jawab jikalau peradaban wanita Indonesia mengalami kehancuran etika? I dont think so

Jul 21, 2016

Pagi Ini Hujan



Pagi ini, pagi yang tak lagi Desember, hujan mengguyur dengan deras. Semestinya, aku bergelung saja dibawah hangatnya selimut tebalku seraya meneruskan mimpi indah semalam. Tapi tidak untuk kali ini, tiba-tiba aku ingin menyapa hujan. Menengadahkan tanganku untuk menadah tetes-tetesnya yang lembut.

Aku begitu menyukai hujan. Dan aku suka berjalan dibawah guyurannya. Tersebab, hujan memelukku dengan kehangatannya, sembunyikan derai air mataku dibalik teduhnya. Bersama hujan, kurasakan ada setetes rindu yang membasahi pagiku, perlahan mengalir dan meruapkan wangi yang membaui hatiku.

Pagi ini, pagi yang tak lagi Desember, menyisakan hujan yang tak lagi menderas dan berganti dengan gerimis yang merinai. Ada sejumput kenangan yang masih tersembunyi dalam lipatan ingatan dan aku akan menitipkannya dibalik teduh hujan. Sebab, aku ingin selalu mendengar suara rintiknya yang jatuh di atap rumah. Suara rintik yang tak pernah berubah. Suara rintik yang mengeja namamu. Masih namamu. Tetap namamu.

Pagi ini, pagi yang tak lagi Desember....


Jul 20, 2016

Kebahagiaan Selalu Ada Di Kehidupan Kita

Kebahagiaan selalu mengalir di sekitar kehidupan. Bila memiliki hati yang penuh cinta dan rasa syukur, maka kebahagiaan selalu ada untuk kita. Jangan menunggu kebahagiaan tiba, sebab kebahagiaan sudah ada di dalam diri kita.

Sebagian besar orang selalu mencoba mencari kebahagiaan kemana-mana, dan berjuang cukup keras untuk menemukan kebahagiaan. Mereka kehilangan kesadaran untuk mengetahui bahwa kebahagiaan sudah ada di dalam diri mereka. Mereka lupa dan tidak bersyukur untuk menikmati hal-hal kecil yang bisa menciptakan kebahagiaan. Sebab, pandangan mereka hanya menunggu segalanya sempurna untuk bisa menemukan kebahagiaan, mereka lupa bahwa ketidaksempurnaan hanyalah persepsi, kesempurnaan adalah realitas dari kehidupan.

Jalan-jalan di halaman rumah, secangkir kopi, mandi, senyum, pikiran positif, sinar matahari, bulan, bintang, tanaman, adalah sebagian kecil dari sumber kebahagiaan. Bila hati bersyukur dan menikmati hari ini dengan sukacita, maka kebahagiaan selalu ada untuk kita

Ketika kita merasa beruntung dengan realitas hidup kita, maka kebahagiaan selalu ada untuk kita.  Hargai semua yang kita miliki saat ini, jangan menghabiskan waktu dan energi untuk apa yang tidak kita miliki. Bersyukurlah dengan yang sudah dimiliki agar setiap hari sukacita dapat membawa kebahagiaan ke dalam hidup kita.

Semua kebiasaan positif sekecil apapun akan menciptakan hal-hal besar untuk kebahagiaan kita. Berterimakasihlah untuk hal-hal baik, jangan mengabaikan diri sendiri untuk mensyukuri semua peristiwa hidup. Nikmati sisi baiknya dan belajarlah dari sisi buruknya. Ketika baik dan buruk sudah menjadi pengalaman yang indah, maka kebahagiaan selalu akan menjadi bagian terpenting dari kehidupan.

Kebahagiaan tidak dihasilkan dengan memiliki sesuatu yang sangat kita inginkan. Kebahagiaan dihasilkan dari rasa syukur, ikhlas, terima kasih, dan sukacita di dalam realitas kehidupan sehari-hari. Kebahagiaan tidak memerlukan momen luar biasa, kebahagiaan hanya memerlukan sukacita dan rasa syukur.

Kebahagiaan bukan tentang hasil akhir, tetapi tentang jiwa yang penuh sukacita di sepanjang proses kehidupan yang melewati berbagai rasa dan pikiran. Kebahagiaan bukan tentang membandingkan diri sendiri dengan orang lain, tetapi mengisi diri dengan energi positif. Bila hidup Anda dibiarkan di dalam rasa kekurangan, maka hal tersebut akan memadamkan rasa syukur kita, akibatnya kebahagiaan semakin menjauh dari kehidupan kita

Rasa syukur dan terima kasih akan menghangatkan tubuh kita di tengah rasa dingin yang luar biasa. Rasa syukur dan terima kasih akan menerangi hidup kita di tengah kehidupan yang paling gelap. Rasa syukur dan terima kasih akan menemukan sukacita di tengah dukacita.

Setiap hari fokuskan energi positif kita untuk menemukan sesuatu yang bisa disyukuri. Kita bisa mensyukuri pagi, mensyukuri udara yang segar, mensyukuri rasa sehat, mensyukuri makanan yang Anda sedang makan, mensyukuri jumlah uang yang Anda miliki, dan mensyukuri apapun yang hadir di tengah kehidupan kita.

Kebahagiaan adalah urusan detik ini, bukan urusan bahwa semuanya harus sempurna. kebahagiaan bukan berada dititik masa depan, tetapi berada pada saat ini. Setiap hari kenali, hargai, pahami, kelola dan cintai semua sumber kebahagiaan. Hiduplah di masa kini dan bersyukurlah untuk semua kejadian di dalam hidup kita.

Jul 19, 2016

Jalan Hidup

Setiap orang punya jalan hidup yang berbeda. Ada yang biasa-biasa aja, Ada yang langsung mulus, ada juga yang harus berliku dahulu.
jalan hidup itu sebenarnya bukan hanya karena mengikuti air mengalir saja melainkan kita yang memutuskan sejauh mana kita untuk memilihnya.
kalaupun dia ingin mengikuti saja seperti air mengalir, toh awalnya kita memilih untuk hidup seperti itu.
 

Wajarlah manusia, dengan sifat dan karakteristik yang berbeda-beda, otomatis jalan hidupnya pun juga berbeda.

Yang jadi pertanyaannya, sejauh mana kita kuat untuk memilih apa yang kita pilih? Apa kita benar-benar kuat atau tidak sama sekali?
Ya itu semua dari kita sendiri, karena kitalah yang menjalaninya bukan orang lain.

Jul 18, 2016

Pelacur Di Jaman Gila


Mereka menjual badan di tepian jalan,..
Bersolek rapi seolah suci,..
Tersenyum bangga,.. malu entah kemana..

Mereka melacurkan diri di kotak televisi..
Jaga citra seolah tanpa cela..
Meriah berkhotbah,.. tak ada kata mengalah..

Mereka menjajakan cinta di lapangan desa..
Suguhkan hiburan lenakan kesadaran..
Menebar janji angan, seolah bukti bukan lagi tagihan..

Mereka berhias dasi di ruangan-ruangan wangi,..
Suguhkan mampu: "Inilah aku, menarik bukan,.. cicipi cobalah aku!"
Merasa terbaik,.. lupa berpunya dosa.. kritik ditampik

Percaya bukan lagi sebuah semat pengakuan,.. amanah bukan lagi musibah..
Mengemis guna mendapatkan,..
lantas sujud syukur seolah berkah!
Tak ada beban, semua berpesta kemenangan!

Inilah jaman gila,..
Atau mungkin akhir jaman..

Inilah jaman berebut kuasa,..
Atau mungkin telah hilang semua kesadaran..

Inilah jaman tiada hitam putih..
semua kelabu,.. Atau mungkin semuanya baik-baik saja, hanya demamku meracau..

Aku Rindu