Jul 8, 2015

Berhati-Hati, Pilihlah, Siapa Temanmu…

Ketika pertemanan di dunia maya tidak membawa manfaat..

Bahkan justru menambah mudharat..

Ada baiknya ucapkan selamat tinggal saja.

Jangan memaksakan untuk mempertahankan pertemanan dengan mereka
Yang hanya menguras energi dan waktu..

Dengan terus meladeni omongan-omongan tak berguna
Hidup dan waktu kita terlalu berharga untuk itu

Maksud hati mungkin baik, ingin mendakwahi mereka
Tapi hati ini lemah, boleh jadi malah diri ini yang terbawa mereka

Karena teman bergaul, baik di dunia nyata ataupun maya, merupakan cerminan dirimu.

Pepatah Arab mengatakan,
“Anli mar’i la tas’al, was’al an qoriinihi fainna qoriina bil muqorini yaqtadi.. Jika ingin tahu seseorang, jangan tanya dirinya, tetapi tanyalah temannya dan keadaan temannya.”
Maka berhati-hatilah.. pilihlah benar-benar..
Kepada siapa engkau menambatkan tali kasih sayang
Karena siapa engkau dan bagaimana agamamu..
Tergantung kepada siapa temanmu.
“Di antara bentuk kecerdasan seseorang adalah selektif dalam memilih teman berjalan, teman bersama, dan teman duduknya.” (Abu Darda’)

Jul 7, 2015

Sempurna

Jika engkau mencari orang yang sempurna untuk menjadi pendampingmu, umurmu akan habis sebelum menemukannya. Menikah itu saling berbenah.
 
Bukan setaranya jenjang pendidikan yang menjadikan suami-istri bahagia, tetapi penerimaan dan saling ridha yang jauh lebih berharga. Betapa banyak yang sama-sama tinggi jenjang pendidikannya, tapi ruwet pernikahannya. Bahkan sejak tahun awal pernikahan, sudah penuh dengan kisah pertengkaran.

Makin tinggi harapan tentang apa yang ingin kita raih dalam pernikahan, makin sulit merasakan kebaikan pasangan kita, meski ia sangat baik. Makin besar yang ingin kita perjuangkan dalam pernikahan, makin mudah kita menerima kekurangannya. Kita lebih berlapang dada untuk berbenah.

Inilah yang lebih penting untuk kita siapkan. Berapa banyak yang menikah dengan berbekal cinta menggebu, tapi segera kecewa usai bulan madu.

Cinta Dalam Secangkir Rindu Mas Paijo

Tidak ada yang lebih romantis selain duduk berdua bersama dengan mas paijo, membagikan pikiran tentang hal apapun di dunia ini. Entah kecil ataupun besar, entah penting ataupun hanya sekedar obrolan ringan. Karena tidak ada yang lebih romantis selain bisa membicarakan banyak hal, tanpa kenal waktu, tanpa kehabisan topik, tanpa rasa bosan.

Tidak ada yang lebih menggetarkan dari tatap mata tanpa kata-kata. Hanya erat genggam tangan dan selengkung senyuman. Tapi saling memahami isi hati masing-masing. Dan saat itu kau akan bersyukur berada di sisi seseorang yang begitu mengerti dirimu, anganmu, mimpi-mimpi dan tujuan hidupmu.

Tidak ada yang lebih indah selain punya teman hidup yang kita tidak pernah kehabisan kata untuk berkomunikasi, bertukar pikiran, tanpa rasa canggung, tanpa basa-basi . Tanpa rasa menggurui dan digurui, lebih rendah atau lebih tinggi.

Kenyamanan yang tidak dibuat-buat, kebersamaan yang sederhana. Seperti menikmati malam petang ini dengan secangkir minuman hangat sembari berbincang dan bermanja-manja dipundak mas paijoku sayang, 
"I love you ning...kata mas paijo dengan mencium kening, akupun menjawab sambil senyum mesra, I love you to mas"...

Saya Dan Mas Paijo Sama


 Di dunia ini, tidak ada pernikahan yang sempurna, pun tidak ada suami atau istri yang sempurna. Salah satu kunci dari sebuah pernikahan bahagia adalah penerimaan tulus akan satu sama lain. Tapi, menerima keadaan pasangan apa adanya bukan berarti mengabaikan kesempatan untuk saling menasehati dalam kebaikan dan memperbaiki diri.
 
 Ketika kita mencintai seseorang, tentu kita mengharapkan kebaikan bagi dirinya. Kita tak ingin melihat pasangan kita susah. Kita ingin membahagiakannya, semampu kita, sejauh yang kita bisa.. selama tidak bertentangan dengan syari’at Allah.

Seorang suami atau istri yang baik, tentu akan berlapang hati dan berbenah diri jika ditunjukkan kekurangannya. Memiliki kekurangan adalah suatu hal yang wajar dan manusiawi, nobody’s perfect. There is no flawless relationship. Namun, tiap orang memiliki standar masing-masing terhadap kata “penerimaan” dalam suatu hubungan.

 Ada orang yang mampu menerima semua kekurangan pasangannya, sebobrok apapun kelakuan pasangannya. Ia mampu bersabar walau mungkin sudah dizhalimi sedemikian rupa. 

Namun, ada juga yang tidak bisa menoleransi kekurangan pasangannya, yang mungkin ia anggap kekurangan itu begitu fatal atau bersifat prinsipil. Mereka telah menetapkan batasan, mana yang masih bisa diterima dan mana yang tidak. 

Semua kembali lagi kepada pribadi masing-masing dan tidak bisa disamaratakan satu dengan yang lainnya. Karena kondisi dan situasi tiap rumah tangga, berbeda.

Dan jangan pernah sekalipun kita (termasuk saya) memaksa orang lain terutama pasangan untuk menerima kekurangan kita, dengan terus berlindung di balik kata, “Terimalah aku apa adanya..”,  tanpa ada usaha gigih untuk memperbaiki diri. 

Karena mencintai adalah saling berkorban untuk yang dicintai. Dan bukan sebaliknya, mengorbankan perasaan orang yang dicintai.

 Begitu juga saya dan mas paijo, dari awal kita bertemu dan menjalin menyatukan hati menjadi satu, kita saling mengungkapkan baik buruknya kita yang kita rasa harus diungkapkan, karena menurut kita akan lebih baik kita sama-sama tau, siapa sih yang mau menerima dan mendengar keburukan orang? pasti tidak ada kan? tetapi kalau kita bisa melihat diri kita sendiri, kita juga punya sisi yang tidak baik, setidaknya kita seperti bercermin, inilah saya seperti pasangan saya, karena jodoh adalah cerminan diri kita.

 Selama kita sudah memutuskan, inilah pasangan hidup saya, bagi saya mas paijo adalah yang terbaik, mau orang bilang mas paijo seperti apa dan apa, bagi saya mas paijo yang terhebat dan segalanya. 

 Hubungan saya dan mas paijo berawal dari angka nol, saya bahagia bukan karena duit, kita bukan orang tajir, hidup saya biasa saja, sederhana, apa adanya, tetapi hidup saya tidak pernah merasa kekurangan, karena saya selalu bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan, saya dan mas paijo menyatu menjadi satu bukan karena uang, tetapi menyatu menjadi cinta kasih menjadikan lebih baik dari yang terbaik.

“Dan janganlah mengatakan, ‘Terimalah aku apa adanya’. Akan tetapi katakanlah, ‘Terimalah aku, aku akan berusaha menjadi yang terbaik semampuku’..”

Jul 6, 2015

Pembelajaran Hidup

Anak-anak kita kelak mungkin akan bertanya tentang apa yang kita kerjakan di waktu muda. Orang tua yang bijak akan menceritakan berbagai pengalaman hidup terbaik yang bisa menjadi pembelajaran. Dan sejatinya, kitalah orang tua itu kelak.

Adalah tugas kita membuat cerita hidup yang baik. Sehingga saat pertanyaan-pertanyaan kecil dari mulut anak-cucu kita nanti menanyakan masa muda kita, kita tidak perlu sibuk menyembunyikan rasa malu kita atas segala cerita di masa muda, masa kita hari ini.

Saat ini kita sedang menulis cerita. Cerita yang mungkin biasa saja atau mungkin juga luar biasa. Sebagian dari kita sibuk mengisi ceritanya dengan kisah romantisme cinta dan angan-angan kosong tentang kekasih pujaan hati dan cinta bertepuk sebelah tangan. Sebagian yang lain sibuk mengisi ceritanya dengan perjuangan memperjuangkan kehidupannya baik dalam urusan karir, pendidikan, dan lain-lain.

Anak-anak kita kelak mungkin akan bertanya tentang semua itu. Mungkin, kelak kita akan sibuk memilah mana cerita yang akan kita sampaikan. Mungkin kita pula tidak bisa menceritakannya karena tidak ada cerita yang menarik dan bijak, sehingga kita terpaksa membuat cerita karangan. Mungkin kita akan tersenyum antusias dan menanyakan kembali kepada anak-anak kita, cerita mana yang ingin mereka dengar.

Kita sedang menulis seluruh dongeng nyata itu hari ini. Di usia ini, di masa ini. Cerita itu sedang berjalan dan kelak bisa menjadi pembelajaran atau pula menjadi beban. Tergantung bagaimana kita menjalani hari ini.

Anak-anak kita nanti berhak mendapatkan pembelajaran hidup kita. Agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang serupa, agar mereka bisa bergerak lebih cepat dari gerak kita hari ini, agar mereka lebih menjadi bijaksana daripada kita hari ini. Adalah hak mereka untuk mendapatkan semua pembelajaran itu. Apabila kita lebih sibuk pada urusan kita dan memikirkan tentang diri kita sendiri, mungkin kita pun telah dilupakan oleh orang-orang tua kita. Kita tidak mendapatkan semua itu dari mereka.

Kita jangan seperti itu. Kita akan mengubah banyak hal dalam hidup kita dan kita mulai dari diri kita sendiri. Sehingga perubahan itu menggema hingga anak cucu kita nanti. Kita membuat pola hidup yang baru yang berbeda dari seluruh pendahulu kita, kita akan membuat cara komunikasi yang baru yang tidak pernah dilakukan oleh pendahulu kita. Dan kita akan menciptakan rasa cinta dan kasih sayang yang berbeda dari bentuk yang pernah kita terima.

Kelak kita akan menjadi orang tua, dan orang tua yang bijaksana adalah mereka yang menyadari perannya jauh sebelum menjadi orang tua. Dan itu adalah kita, hari ini.

Untuk Para Istri

Banyak-banyaklah Anda bersyukur pada suami Anda..
Karena sifat kebanyakan wanita itu mengkufuri kebaikan suami.

Sesungguhnya suami Anda..
Telah menjaga kesucian Anda dari perbuatan maksiat
Biidznillaah, ia telah memberikan nikmat berupa anak..
Ia telah memberikan Anda nafkah.. ia juga telah memberi Anda status..
Sebagai seorang Istri.

Dimana banyak di antara para wanita
Yang hingga kini masih merindukan dan memimpikan..
Untuk menjadi seorang Istri dan Ibu.

Bersyukurlah …
“Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya, ‘Mengapa (demikian) wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Karena kekufuran mereka.’ Kemudian ditanya lagi, ‘Apakah mereka kufur kepada Allah?’ Beliau menjawab, ‘Mereka kufur terhadap suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” ( HR. Bukhari, no. 105 2 , dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma )

Jul 5, 2015

Bahagiaku Melebihi Segalanya

Tidak ada yang lebih membahagiakan seorang penulis, melainkan ketika tulisannya mampu menggugah dan menggerakkan hati sesamanya. Mampu mengubah pandangan dan kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
 
Mampu memberi manfaat sebanyak-banyaknya. Itulah motivasi utama saya dalam menulis. Agar apa yang saya tulis membekas dalam diri mereka yang membacanya.

Tak perlu seluruh dunia tahu apa yang kita lakukan adalah menebar kebajikan, cukup Allah saja yang mencatat kebaikan-kebaikan kecil yang kita sematkan lewat tulisan-tulisan itu dalam diam. Cukuplah Allah yang mengetahui..

Ide-ide yang mengendap di kepala, tulisan-tulisan yang rapi tersimpan di draft blog atau notes smartphone kita.. Boleh jadi sangat bermanfaat ketika kita menerbitkannya dalam bentuk tulisan yang setiap orang bisa membacanya.

Satu paragraf sederhana yang kita anggap biasa-biasa saja boleh jadi justru mencerahkan bagi orang lain. Bagaimana kita tahu ide kita itu salah atau benar kalau kita tak pernah menerbitkannya dan memberi kesempatan orang lain untuk membaca dan menilainya?

Seringkali saya mendapat pesan bbm, kadang berkomentar langsung yang isinya berhubungan dengan tulisan-tulisan yang saya muat di blog. 
Mulai dari ucapan terima kasih, kritikan membangun.

Lewat tulisan-tulisan saya, Allah berkenan menyentuh hati-hati mereka, untuk mengenali kebenaran, mengikuti dan mendakwahkannya.

Bukan.. bukan karena kepandaian saya merangkai kata atau karena sayalah yang menulisnya.. Tapi semata karena Allah yang menerangi hati mereka dengan hidayah dan taufikNya. Karena saya percaya, seperti apapun dan bagaimanapun seorang manusia, selalu ada setitik cahaya kehanifan dalam jiwanya.

Ya, semuanya bi’idznillah.. Tidak ada yang mampu menggerakkan hati seorang hamba, melainkan Pemiliknya, Allah Azza wa Jalla. Jadi tak perlu besar kepala, menepuk dada dan menyombongkan diri ketika tulisan kita menggugah dan menginspirasi. Haadza min fadhli Rabbi..

Karena tidak ada yang lebih membahagiakan seorang penulis, melainkan ketika karyanya dapat bermanfaat tidak hanya bagi dirinya, namun juga bagi orang banyak. Tidak hanya di dunia, tapi juga di kehidupan selanjutnya.
Semoga apa-apa yang saya tulis, dapat menjadi pemberat timbangan kebaikan kelak di yaumil hisab..
“Setiap kita akan berpindah ke kehidupan lain (mati) yang tersisa tinggal apa yang kita tulis. Maka beruntunglah bagi siapa yang tulisannya menghasilkan kebaikan dan memperpanjang kebaikannya walaupun amalnya sudah terputus. Dan celakalah mereka yang tulisannya justru menjadi laknat baginya di alam kuburnya.” ~Dr Yusuf Al Syubailiy
“Kalau kau tidak punya shadaqah jaariyah (yang pahalanya terus mengalir) setelah engkau mati, setidaknya jangan sampai kau punya dosa jaariyah (yang dosanya juga terus mengalir)..”

Aku Rindu