Jul 11, 2015

Mengerti

Kehidupan memang penuh dengan pembelajaran 

Kadang kita diminta untuk mengerti semuanya 

Mengerti akan suatu keadaan
Mengerti untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan
Mengerti akan suatu kondisi
Mengerti akan suatu hal
Mengerti untuk bisa melakukan yang terbaik, dan seterusnya


Namun tak ada yg lebih membahagiakan ketika dapat saling mengerti 

Tak perlu banyak bicara, namun sudah mengerti

Tak perlu banyak bertindak namun sudah mengerti

Kadang hanya dengan diam pun sudah mengerti

Karena dengan menjaga dan saling mengerti sudah memberikan arti tersendiri

Terimakasih sudah mengerti atas segala hal yang memang perlu untuk saling mengerti

Ibu Adalah Sekolah Utama: Tergantung Bagaimana Kepala Sekolahnya??

oleh: Bendri Jaisyurrahman

Untuk kali ini, ijinkan saya bicara kepada ayah dari hati ke hati…
Dalam konteks pengasuhan, sekolah pertama bagi anak adalah Ibu. Ibu adalah sekolah pertama dan terbaik bagi anak, karena secara psikologis: Ibu memberikan rasa nyaman bagi anak agar betah berlama-lama di dekatnya, menjadi tempat untuk curhat dan diskusi tentang banyak hal terutama menanamkan nilai-nilai agar anak menjadi tangguh menghadapi tantangan kehidupan.


Sulit bagi Ibu untuk fokus mendidik anak dan membuat mereka nyaman secara psikologis jika ia tidak mendapat dukungan, apalagi jika hanyut dalam perasaannya sendiri dan mudah stress.

Ibu yg stress akan mudah emosi dan kurang sabar menghadapi anak-anak. Inilah gejala awal munculnya ‘mother distrust’ di mana anak jadi tidak betah di rumah dan merasa bhw Ibu adalah sosok yg tidak mengenakkan.

Semua fungsi dan tugas Ibu sbg guru pertama dan utama akan dapat dipenuhi jika peran sbg Kepala Sekolah yg dipikul Ayah berjalan maksimal.

Mother distrust muncul lagi-lagi krn peran ayah sbg. Kepala Sekolah; hilang atau sangat kurang. Ayah lah yg seharusnya berpikir utk membuat anak menjadi betah bersama ibunya, dalam hal ini: apakah kebutuhan psikologis Ibu. Ibu akan bisa memberikan rasa nyaman kepada keluarga jika ruang bathin nya nyaman. Dan…. Ayah-lah yg berkewajiban menyamankan ruang bathin Ibu. Ada ruang dan waktu bagi Ibu utk mencurahkan isi hatinya, misalnya: tidak hanya dibebani oleh pusingnya kenaikan harga-harga di luar.

Menurut penelitian, perempuan (makhluk berkromosom XX) yg jiwanya sehat butuh mengeluarkan 20 ribu kata per hari. Ibu yg jarang diajak ngobrol santai oleh suaminya, maka bahasa tubuh dan nada bicaranya tidak mengenakkan. Menyusui anak akan resah, tak sabar dgn kelakuan anak, bahkan cenderung menjadikan anak sbg sasaran pelimpahan emosi yg tdk semestinya. Jadi, endapan permasalahan dgn sang ayah dimanifestasikan dlm bentuk amarah yg tidak jelas kepada anak-anak.

Terkadang, ada Ibu yg tetap sabar kepada anak-anaknya meskipun Ayah tak memberi ruang bagi jiwanya…, tapi manifestasi ekstrimnya dalam bentuk penyakit fisik yg sulit sembuh

Maka tugas wajib ayah adalah memberikan ruang, waktu, dan suasana setiap hari bagi Ibu utk bicara sbg upaya utk selalu menyehatkan jiwanya, mendengar keluh kesahnya. Rangkul Ibu untuk marah dan menangis kepada Ayah saja agar sehat jiwanya, agar Ibu bisa selalu memberikan bunga cinta utk anak-anaknya.

Ibu yg sehat jiwanya dapat menjalankan tugasnya sebagai sekolah terbaik bagi putra-putrinya. Ia bisa tahan berjam-jam mendengar keluhan anak-anaknya. Ia mudah memaafkan anaknya. Ia menjadi madrasah yg baik utk menanamkan nilai-nilai Robbany…, dan hal ini harus didukung oleh ayah yg memperhatikan bathinnya, di samping kesehatan fisiknya. Ibu harus sehat luar dalam.

Ayah yg hebat, berawal dari suami yg hebat, yg mengerti jiwa dan kebutuhan .. Singkatnya, bahagiakan pasangan kita karena ia adalah madrasah utama bagi anak-anak kita.

Berhentilah Sejenak

Berhentilah sejenak. Bernafaslah perlahan. Nikmatilah oksigen yang bertukar dalam pembuluh darah paru-parumu. Rasakan kesegarannya. 

Berhentilah sejenak. Jangan kau pejam kedua mata. Bukalah lebar-lebar dan pandanglah sekitar. Lihatlah sekelilingmu, apa pun itu. Nikmatilah warna-warni dunia yang tercipta dari pantulan cahaya. Rasakan anugerah kemampuan semua bagian mata yang mampu bekerja dengan baik sampai pada detik kesekian hidupmu.

Berhentilah sejenak. Dengarkan baik-baik suara dunia. Baik orang-orang yang berisik, maupun langit yang diam bersahaja. Pahamilah isyarat yang dikirimkan Semesta. 

Rasakanlah membran dan tulang telingamu yang menyampaikan gelombang dari udara hingga menjadi bunyi yang kau kenali.

Berhentilah, sebentar saja. Rasakanlah karuniaNya. Ucapkan syukur padaNya.

Alhamdulillah…

Jul 10, 2015

Mencintai Pasangan

Suatu ketika saya pernah melakukan sebuah obrolan ringan dengan seorang pengusaha kaya. Dia memang kaya banget, namun sayang dia seorang duda. Dia punya harta dan tahta namun tidak punya wanita. Hampa katanya. 

Kasus di atas hanya contoh, betapa pentingnya peran seorang istri bagi suaminya, yang keduanya saling melengkapi. Dan saya yakin masih banyak contoh kasus yang lainnya. Sepasang suami-istri diibaratkan sebagai pakaian dan badan, keduanya saling melekat. Hal tersebut menandakan sebuah keintiman yang terasa sangat dekat.

Sepasang suami istri adalah dua jiwa yang terbelah kemudian menyatu. Hal itu menandakan jika salah satunya hilang, maka diibaratkan jiwanya sudah tidak lagi utuh. Sepasang suami istri diibaratkan tempat bercocok tanam dan penanamnya, diharapkan adanya benih yang kelak tumbuh menjadi generasi. Kaitannya dengan hal itu, terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 223 berikut ini:

”Istri-istrimu adalah ( seperti ) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah ( amal yang baik ) untuk dirimu sendiri, dan bertakwalah kepada Alloh, dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemuiNya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman”.

Setiap tindakan baik suami istri untuk saling menyenangkan dihitung ibadah. Selain dampak baiknya adalah keluarga menjadi harmonis. Subhanallah, betapa agama Islam sungguh indah, menjadikan sebuah aktivitas yang menyenangkan sebagai ibadah. Ibadah yang nantinya sebagai investasi akhirat kita.

Jika anda seorang istri, kapan terakhir kali anda jatuh cinta pada suami? Jika anda seorang suami, kapan terakhir kali anda jatuh cinta pada istri? Kalau kita hanya jatuh cinta pada awal pernikahan saja, hal itu masih sangat kurang. Jatuh cintalah yang berulang kali dan setiap waktu padanya. Seperti mas paijo tiada hari tanpa jatuh cinta,hehe.., Jadikan hari-hari yang dilalui dalam keluarga dengan penuh cinta. Tak masalah jika pagi berpisah karena sama-sama kerja, kemudian siangnya bilang kangen. Kadangkala menggombal yang sesuai kadar juga diperlukan, namun jangan terlalu sering menggombal.

Coba kita agendakan waktu misalnya hanya setahun sekali, sehari saja berdua untuk mengulang masa bulan madu, tanpa anak-anak tentunya. Walaupun usia pernikahan sudah tua, namun bumbu-bumbu cinta itu harus terus tetap muda agar keluarga bahagia. Jadi, cintailah pasangan Anda!

Mas Paijo Jatuh Cinta Yang Ke Sepuluh

Ceritanya nich semalam saya lagi sendirian dan asik menulis seperti biasa, mas paijo lagi diluar kota, tiba-tiba saya dikejutkan dengan bunyi bbm, langsung aku lihat dan aku buka ehh... dari mas paijoku sayang, langsung saya baca.

"cintaku, sayangku, pujaanku aku kangennnn..., hatiku kangen banget nich, kangen sama cintaku yang ayu, duhh kenapa sih koq begini amat hatiku"

Saya yang lagi konsen menulis menjawab sekedarnya, dan masih lempeng didepan laptop.

"duhh kenapa juga sih mas, baru sehari saja sudah rempong amat dech ahh..." Saya jadi bingung sendiri.

Pada akirnya saya masih saja melanjutkan menulis, saya masih tidak mengerti, balasnya beberapa saat kemudian. 

Mas paijo bbm lagi, "aku jatuh cinta sama ning, gimana nich ning, aku jatuh cinta banget malam ini" 

Sepontan dengan membaca pesan dari mas paijo saya ketawa sendiri, kaget, lucu, serasa baru jadian gitu sih.. 

"Duh mas malam-malam jangan bikin ketawa dech ahh"..., sambil ketawa saya balas pesan mas paijo, "Ya udah mas paijo bobo aja biar cepet ganti besok harinya yaa..."

Mas paijo masih balas lagi pesan dari saya "rasanya aku jatuh cinta sama ning yang ke sepuluh nich" 

Saya baca kaget dan membalas "koq ke sepuluh? yang ke sembilan, delapan tujuh dan selanjutnya siapa loh? 

Saya bertanya dengan penasaran, mas paijo menjawab lagi.

"Yang ke sembilan sama ning, yang ke delapan sama ning, yang ke tujuh jg sama ning dan selanjutnya juga sama ning, pokoknya semua sama ning dech..hehe..." 

Ihh mas paijoku sayang so sweet dech ahhh....I love you mas paijoku sayang...hehe...

Ya begitulah mas paijo, tiada hari selalu mengucapkan kata I love you, dan selalu mengatakan, jatuh cintalah dengan orang yang sama setiap hari, itu akan membuat hati kita bahagia dan rasa syukur yang tak terhingga..., I love you Indrajied.....

Bagi saya, jadilah wanita yang selalu di sayang dan di cintai pasangan. Pancarkan kecantikan fisik dan kecantikan hati hanya untuk pasangan tersayang, biarkan dia mengetahui betapa istimewanya anda.

Dirimu Adalah Cerminan Jodohmu

Banyak diantara kita yang sebelum menikah, menginginkan pasangan yang kriterianya seperti ini dan seperti itu. Bagi yang telah menikahpun, pasti masih menyimpan sebuah harapan pada pasangannya. Harapan agar pasangannya seperti yang ia idamkan. 

Salahkah jika kita menetapkan kriteria atau berharap pasangan saat ini sesuai dengan apa yang kita inginkan? Tentu tidak, selama hal itu masih dalam koridor syari’at dan apa yang ia harapkan mampu di penuhi oleh pasangannya. Bagaimana jika harapan itu terlalu tinggi hingga sulit dipenuhi? 


Seandainya kita tahu, tidaklah Allah memasangkan kita melainkan dengan yang sekufu juga. Bukankah Allah telah berjanji dalam firman-Nya?
“ Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) .” (An Nuur: 26)
Jika kita mengharapkan pasangan yang rajin menuntut ilmu, sudahkah kita aktif mendatangi majelis-majelis ilmu? Jika kita mengidamkan pasangan yang halus tutur kata dan perangainya, sudahkah kita sendiri santun dalam berucap dan berbuat? 

Jika kita mengharapkan pasangan yang rapat menjaga hijab dan kehormatannya serta menundukkan pandangannya dari lawan jenisnya, sudahkah kita menerapkan hal yang sama pada lawan jenis kita? 

Sungguh jika kita sadar, ketika mengharapkan pasangan dengan segudang kriteria dan kelebihan.. Cobalah bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah saya cukup baik untuk mendapatkan yang demikian?”. 
 
Ketika kita memimpikan pasangan yang 100% sesuai dengan harapan kita.. Jujurlah pada diri sendiri, “Sudahkah saya memenuhi harapannya akan kriteria pasangan ideal, sempurna 100%?” 
 
Bukan berarti mengharap mendapat pasangan yang lebih baik itu terlarang. Yang jadi ganjalan adalah ketika kita muluk-muluk memimpikan si dia yang serba sempurna tanpa cela.. sudahkah kita berkaca? Sudahkah kita melihat pada diri sendiri. Mengukur dan menakar. Pantaskah kita mendapatkan si serba sempurna sementara kita sendiri.. jauh dari kata sempurna? 

Tidak ada yang salah dengan bermimpi. Asal tetap menjejak pada realita. Jangan sampai mimpi kita justru menghalangi kita untuk bersegera menikah. Karena terlalu sibuk mengejar yang sempurna sehingga melupakan yang biasa namun lebih mampu menjaga kita dari fitnah. 

Atau bagi yang telah menikah, harapan itu menghalangi kita dari rasa syukur akan hadirnya pasangan yang Allah anugerahkan dalam hidup kita. Terus menuntut pasangan sesuai dengan keinginannya. 

Jadi, teruslah berusaha, memperbaiki diri dan tak putus berdo’a.. Agar diberikan yang shalih/ah dan menentramkan. Yang terbaik untuk menemani menjalani hari-hari, mewujudkan rumah tangga penuh sakinah di bawah limpahan rahmat-Nya.
“ Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya ”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)
Karena sesungguhnya jodohmu… adalah cerminan dirimu.

Jul 9, 2015

Belajar Diam

Menurut saya, “mendengar” di zaman sekarang adalah sebuah keahlian yang keren. Mengapa? Ya karena tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik.

Dimana-mana orang lebih suka berlomba-lomba untuk pintar bicara, bukan pintar mendengar. Orang lebih senang berkoar-koar mengutarakan pendapatnya yang ia pikir lebih benar , dibanding duduk tenang dan mencoba mendengar satu demi satu masukan yang mungkin saja bisa bermanfaat bagi dirinya.

Orang sekarang lebih senang berbicara panjang lebar dibanding diam sejenak, memberi ruang pada orang lain untuk berkata. Sibuk mengeluarkan rentetan kalimat-kalimat pamungkas miliknya, tapi tuli dengan jeritan hati orang-orang di sekitar mereka.

Jumlah orang pintar sekarang semakin banyak. Membuat saya kemudian berpikir keras. Apakah mereka benar-benar pintar? Atau cuma mau terlihat pintar dengan sibuk bicara banyak ? Entah.

Bicara seperlunya, mendengarlah lebih banyak. Dengan mendengar, hati bisa lebih baik bekerja. Ketika lidah tak banyak berkata-kata, pikiran jauh lebih mampu menangkap situasi, hati jauh lebih peka membaca hikmah.

Sebab diam adalah emas. Maka jika memang bicara, usahakan yang keluar adalah permata, bukan racun - apalagi hanya sebagai pemuasan ego diri untuk terlihat ‘pintar’

Aku Rindu