Jun 21, 2015

Hati Yang Sangat Luas

aku jatuh kepada hati yang sangat luas. hati yang seakan tak punya tepi.
hati itu selalu memaafkan. tidak pernah membenci–apalagi tanpa alasan.
hati itu selalu menguatkan. pilar-pilarnya terbuat dari keikhlasan dan kesabaran. lantainya selalu berikhtiar. atapnya selalu bertawakal. di ruangnya melayang rasa syukur yang sangat ringan.
hati itu selalu melayani. siapa saja, kapan saja. meskipun kadang hati-hati yang nakal menjadikannya mainan. hati itu selalu menerima ketidaksempurnaan.
hati itu menempatkan dirinya pada tanah terendah, tanpa ia sadar bahwa sesungguhnya bumi pun bersayap. bumi melangitkannya.

hati itu juga mengenal lelah. hati itu juga mengenal luka. hati itu juga mengenal kecewa. tapi hati itu sangat luas, sehingga rasa-rasa itu hanya titik-titik kecil yang tak ada artinya. terkalahkan dengan semangat yang tak ada putusnya, tiada jeda.
aku jatuh kepada hati yang sangat luas–dan aku ingin membiarkannya demikian. aku tak meminta ruang yang istimewa, sebab aku tau kehadiranku bermakna dengan sendirinya. aku tak meminta dibangunkan istana, sebab aku tau bahwa pemilik hati itu menjagaku dengan sendirinya.

Menanti Fajar


Terbanglah membumbung angkasa ketika siang hari meraja, peluklah awan, reguklah biru langit dan laut, meluncurlah ke mana cinta mengikut.

Ketika malam akhirnya tiba, hinggaplah saja dalam mimpiku. 
Serahkan segala gelapmu padaku. 
Maka aku akan mengalungkan bintang-bintang sebagai tidurmu.

Jangan kau terburu-buru memanggil pagi, sebelum lengkap segala deru nafasmu, sebelum tuntas segala ungkapan rindumu. 


Aku sabar bagaikan mercusuar. 
Aku sabar menanti fajar.  
Aku sabar enanti surya. 
Jika senja adalah perenungan, maka fajar adalah harapan untuk terus bergerak. 
Keduanya harus seimbang.

Jun 20, 2015

Berpindah

Tidak akan ada perubahan sampai kamu mau mengubah diri sendiri.
Akhirnya, tahapan ini tiba. Saya mulai benar-benar bosan dengan kehidupan yang begini-begini saja. Bukan tidak menikmati, saya sangat mensyukuri keadaaan ini. Hanya saja, manusia memang tidak pernah merasa cukup dengan hidupnya. Lalu, tidak salah jika ingin mencoba banyak hal. Terlebih jika menuju pada kebaikan. Semoga.

Merasa tertinggal jauh. Merasa tidak punya nilai jual sama sekali. Merasa tidak menjadi seorang yang berguna. Merasa hanya menikmati hidup dengan menyenangkan diri sendiri. Merasa setiap hari habis dengan tanpa menghasilkan apa-apa. Merasa segalanya sia-sia.

Sudah saatnya berpindah. Mencoba hal yang baru. Masuk pada dunia yang berbeda tanpa mengenal siapa-siapa. Lagi. Tenang saja, ini bukan kali pertama. Siap tidak siap, segalanya harus dimulai dengan segera.

Seorang yang terus bermalas-malasan tidak akan mendapat apa-apa. Untunglah, manusia memiliki akal pikiran yang dapat terus bekerja meski tanpa disengaja. Maksudnya, terkadang ketika memaksa diri melakukan sesuatu yang tidak benar-benar kita inginkan, maka inspirasi itu bisa tiba-tiba datang. Entah kemudian menikmati apa yang awalnya memang harus dipaksakan, atau menjadi benar-benar memahami apa yang sebenarnya kita inginkan.

Tidak ada lagi alasan. Manusia cukup pintar untuk bisa mengerjakan banyak hal dalam satu periode. Biasakan bekerja demi sebuah kehidupan yang lebih baik.

Jomblo? Slow aja, Ngapain Galau

Sejauh apapun dua insan dipisahkan, walaupun belum mengenal sekalipun, jikalau berjodoh pasti akan dipertemukan, dan sebesar apapun dua insan saling mengenal, berharap, dan mencintai jika memang tak berjodoh mereka tak akan pernah bersama.
“Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” ( Q.S Yasin : 36 ) 
 
Jodoh sudah tertulis di lauhul mahfuzh, jadi tak perlu kita risaukan, tak perlu khawatir tulang rusuk kita tertukar. Tak usah sibuk mencari, yang terpenting mari kita perbaiki diri, Jomblo? Slow aja. Ngapain galau, semangat...

Berhati-hati Dengan Makanan Yang Kita Makan

Agama kita mengajarkan bahwa apapun yang kita konsumsi harusnya bersumber dari harta yang halal. Ternyata tidak halal, tapi juga baik. Karena tidak semua harta halal pun baik.

Makanan yang kita konsumsi akan menjadi darah dan daging dalam diri kita. Kali ini saya akan memaknai makanan sebagai sebuah makna yang lebih luas daripada sekedar nasi, sayur, lauk, dan aneka minuman.

Sejatinya, apapun yang kita konsumsi haruslah dari sumber yang halal dan baik. Pertanyaannya, apa saja yang kita makan. Mata kita mengkonsumi secara visual, telinga kita mengkonsumsi suara, otak kita mengkonsumsi ilmu.

Kita harus memperhatikan apa-apa yang masuk ke dalam diri kita. Apakah kita melihat sesuatu yang halal? Apakah kita melihat sesuatu yang baik? Apakah telinga kita mendengarkan sesuatu yang baik dan bermanfaat? Apakah otak kita menyerap ilmu yang baik dan halal?

Bagaimana kita tahu bahwa itu halal dan baik? Setidaknya halal itu punya parameter. Dari objek dan sumbernya ataupun cara memperolehnya. Bila kita menyerap ilmu yang buruk, sihir misalnya yang ekstrem, jelas itu bukan hal yang baik. Lalu bila ilmu itu sudah baik, tapi cara kita memperolehnya dengan tidak baik. Misal, masuk SMA aja dengan suap sana sini, atau masuk perguruan tinggi. Apakah ilmu yang akan kita konsumsi nanti itu benar-benar berkah? Pertanyaan besar kan.

Segala sesuatu bisa kita lihat dari objeknya, sumbernya, dan cara memperolehnya. Agama kita tidak mengajarkan segala cara untuk mencapai tujuan, kata Quraish Shihab dalam tulisannya. Kita diajarkan untuk memperoleh sesuatu dengan jalan yang baik.

Bila itu harta, maka selain halal, harus juga baik. Manusia seperti kita ini sering melupakan yang namanya keberkahan. Mencari harta sebanyak-banyaknya, halal sih, tapi tidak berkah. Karena sering menunda shalat, tidak diimbangi dengan sedekah, dan lain lain. Sama dengan hal-hal yang lain, apakah ilmu yang kita peroleh itu berkah, apakah sesuatu yang kita lihat itu berkah, apakah sesuatu yang kita dengar itu berkah. Bagaimana tanda-tanda bahwa itu berkah? Nah ini tugas kita masing-masing untuk berkaca dan mencari tahu.

Maka, sekali lagi, “makanan” yang masuk ke dalam tubuh kita harus kita pilah-pilah dengan baik. Makanan dan rupa apapun. Kita harus belajar tentang kehati-hatian. Kita harus belajar tentang ketelitian.

Makanan yang enak memang selalu menggoda, tapi apakah makanan yang enak itu kita butuhkan? Belum tentu kan?

Selamat berhati-hati dalam hidup.

Mas Paijo Kau Satu-Satunya

Kedua matamu seteduh beringin mas paijo
Biru muda kan menyembul kala jiwa ini terbenam
Senyummu sedamai debur ombak
Cahaya bulan kan membaur pada tiap hela napas


Mas paijo aku panggil kau cinta
Karena yang ada pada gelak tawa hanyalah merah muda
Aku sebut kau cinta
Karena yang terasa pada genggam jemari hanyalah nirwana


Di luar itu dingin
Namun telapak tanganmu serupa nyala lilin yang menari
Di luar itu sunyi
Tapi bersamamu, detak pun terdengar bagai lantun rintik hujan


Kan kupeluk erat waktu agar berhenti
Kan kudekap kau supaya tidak pergi


Renjana ini tidak mungkin tega mengelabui
Mas paijo kau satu-satunya, dalam hati dan denyut nadi

Sosok Mas Paijo Yang Berbeda

Coba tanyakan pada surya,
siapa yang sinarnya lebih terang?
Tanya juga pada sang bulan,
wajah siapa yang lebih memilu perih saat malam?


Dekat di hatimu
Berbicara dengan serdadu
Kata seperti mati
Tak bangkit kembali karena pintu itu sudah lama terkunci


Langit pekat walau siang masih benderang
Tapi kenapa terasa dekat padahal semua terlihat begitu buram?
Seketika salju turun bukan di musimnya
Atau ini sekadar gambaran situasi saat kau menampik hadirku di duniamu?


Bukan dingin karena musim
Bukan menggigil karena resapan tetes hujan
Bukan aku yang mengada
Tapi semua karena rasa itu jatuh pada sosok mas paijo yang berbeda

Aku Rindu