Nov 26, 2016

Sok Sibuk, Rutinitas Tinggi Tipe Pekerja KULI

Pagi Penuh Berkah dan barokah yang Luar Biasa. Segarnya cuaca hari ini. Namun, apakah batin Anda juga segar? Pertama-tama bersyukurlah akan hidup dan kehidupan sekitar. Kemudian, lakukan dengan sepenuh hati dan berikan yang terbaik yang kamu bisa. Hidup secara totalitas!

Saya tahu kita semua ini sibuk. Namun, tak perlu sok sibuk! Sok sibuk itu berarti kita tergesa-gesa dalam mengerjakan sesuatu dan ingin cepat-cepat selesai. Kita tidak menikmati pekerjaan kita. Itu namanya tidak tulus dalam bekerja. Makanya, kita frustasi mengerjakan segalanya dalam satu waktu. Alhasil berantakan, tidak teratur dan kitanya kewalahan. 

Ketika kita terjebak akan kesibukan, kita pun lupa akan kehadiran diri sendiri. Hidup pun seperti robot atau mayat hidup. Jika kita tidak mampu menyadari kehadiran diri sendiri, bagaimana kita mampu hadir dalam kehidupan orang lain? 

Emang sekarang zaman orang sibuk. Apa aja disibukin. Ada orang yang suka sibuk ama urusan orang lain, sibuk ngomongin orang, sibuk mencari kejelekan orang, sibuk memfitnah orang. Sampe-sampe sekarang, banyak orang yang sibuk memperdebatkan ibadah, hingga gak sempat ibadah. Lucu ya orang sibukk...haha... 

Gak usah terlalu sibuk mencari kesempurnaan. Jika kesederhanaan mampu membuat hari-harimu indah. Emang kamu sibuk banget ya ? Kasihan banget sih kamu. Karena orang sibuk itu berarti terjebak. Terjebak pada rutinitas. Terjebak pada kegiatan fisik yang belum tentu efisien. Sibuk yang gak jelas, sama sekali gak bisa dibanggain. Buat apa bangga? Sibuk gak karuan. Gak usah bangga, wong gaji gak seberapa ae gaya, lagaknya sok bos dan sok rutinitas tinggi, itu mah tipe kerjaanya kuli keles.., gaya hidup gaya sok tajir, pulang pergi ke tempat aktifitas naik mobil, biar di bilang orang-orang tajir beneran, ehh..., gak taunya mobil ngutang, malah ngutang mobil dua loh, mobil yang selalu buat narsis, nampang setiap hari di media sosial, dengan gaya dan Caption yang sok sibuk, tapi meskipun sibuk banget masih bisa tampil dan narsis di medsos loh, memberi tau atau pengumuman kepada teman-teman media sosial kalau dirinya mah sibuk banget, gak kayak kamu-kamu gak punya kesibukan, kasian ya kamu gak punya kesibukan untuk sok sibuk haha..., belum rumahnya yang juga selalu tampil di media sosial, setiap pojokan rumahnya di foto, supaya semua tau kalau dia sekarang berhasil meskipun kerjaanya hanya sebagai pendidik yang sok sibuk, dan dengan bangganya dia Caption bahwa itu hasil kerja kerasnya, ehh.., gak taunya ngutang juga, dengan masukin SK biar bisa dapat utangan di Bank.

Terkadang saya melihat dan membaca captionnya koq malu sendiri ya, harusnya mikir donk, kerjaanya suami cuma sales, dia sendiri kerjaanya hanya sebagai pendidik, punya anak, hidup di kota, rumah bagus, mobil dua bagus, sekarang kalau di pikir gaji suami istri berapa sih? Anda pasti bisa menilai sendiri, kalau orang lain bisa berpikir positif gak masalah, lah bagi orang yang pikiranya negatif, pastilah bisa di bilang hasil rumah dan mobil hasil dari gak bener, apa lagi tau kalau suaminya cuma sales, ehh.. di tambah istrinya pulangnya malam-malam malah kadang sampai larut karena ngejar lebur buat tambahan dan sok sibuk padahal hasilnya gak seberapa, dan suaminya selalu protes, kegiatan apapun meskipun gak penting selalu hadir dan di ikutin biar terlihat sibuk banget rutinitas tinggi, ehh.. gilirian suami dicuekin gak di perhatiin (saknone rek bojone, koq cek ngoyone, wes gaji gak sepiro, sampe di rewangi sok sibuk), keluarga terabaikan, dan pasti penilaian orang di luar sana di kira nyambi-nyambi gitu kan ya? Untung-untung kalau masih ada yang berprasangka hasil ngutang, malah bagus loh. Dengan hal-hal begitu nih orang koq bangganya ya pamer di media sosial, tapi saya maklum sih mungkin OKB kale ya, orang kaya baru haha.., memang asal aslinya orang ndeso sih dan berubah hidup di kota menjadi pendidik, tapi mbok jangan norak gitu ta bukkk..., malah gak kelihatan elegan dan gak berwibawa loh, wong pendidik koq kayak gitu se, malah jadi gimanaaaa...gitu ya, nggilani hehe..., saya mah juga dari ndeso loh, tapi gak lebay-lebay norak begitu amat sih ya, geli sendiri ngelihatnya haha...

Makanya bagi pembaca jangan terkecoh dengan foto-foto yang sering tampil di media sosial, siapapun dia, karena pada kenyataanya kehidupan orang tidak seperti itu. Sebenarnya orang kaya sama sekali gak butuh pengakuan dari orang lain. Tanpa memamerkan kekayaan yang dimilikinya, orang lain tetap paham bahwa mereka adalah sebenar-benarnya orang kaya. Hal itu tercermin dari sikap, gaya hidup, dan tentu saja dari apa yang mereka miliki. Sebaliknya, orang yang sok kaya lebih suka memamerkan apa yang mereka miliki secara kalau berlebihan. Tujuannya jelas cari pengakuan. Semakin banyak orang yang mengira mereka kaya, semakin mereka merasa status sosialnya naik. Padahal, anggapan dari orang hanya semu semata.

Maaf ye, bukanya saya sirik, kalau saya mah bersyukur aja. Gak terlalu sibuk. Kalau kata orang mah udah pas, cocok. Waktunya kerja ya kerja, Waktunya ama keluarga jalanin aja. Malah lebih banyak memperhatikan suami. Waktunya jalan ya pergi aja. Waktunya bareng ama teman ya ngikut aja. Dan waktunya ibadah ya ibadah yang khusyuk. Waktunya nulis ya nulis, malah Alhamdulillah lebih banyak hasil dan manfaatnya, jadi saya gak perlu sok sibuk, dan narsis memamerkan aktifitas saya setiap saat dan setiap waktu di medsos, saya lebih suka posting foto berbagi info kuliner dan keindahan alam Indonesia (yang jelas lebih indah dari luar negeri). Saya mah sibuk yang proporsional aja, sesuai ama prioritas. Gak neko-neko. Indah deh pokoknya, sibuk yang menyehatkan. Asyik banget ya sibuk yang model gitu...., met pagi guys...gak usah sibuk banget ya. Biasa-biasa aja asal tepat sasaran.

Nov 22, 2016

Ucapanmu Adalah Kualitas Dirimu

Ucapanmu adalah kualitas dirimu, ungkapan ini menunjukkan pada kita bahwa kualitas seseorang dapat dinilai dari cara berbicaranya. Tetapi di zaman sekarang ini kata-kata ini hanya slogan yang terabaikan begitu saja. Karena pada faktanya sering kita mendengar dan melihat anak-anak kecil sekarang yang baru berusia 7 tahun dia sudah bisa melontarkan sebuah kata-kata kasar dan makian yang tidak pantas kita dengar, apa mungkin itu karena pengaruh lingkungan keluarganya yang orang tua melontarkan kata-kata buruk ketika memarahinya, sehingga sianak menirunya, dan apa mungkin pengaruh lingkungan sekitarnya. Karena pada dasarnya baik buruknya pribadi seorang anak tergantung bagaimana lingkungan keluarga dan sekolah bagaimana cara mendidikannya. Jadi sebagai seorang terdidik kita merasa miris mendengarnya. Padahal dulu ketika aku masih kecil tidak pernah melontarkan kata-kata buruk dan bahkan jarang mendengarkan kata-kata seperti itu. Bahkan ketika orang tuaku memarahiku hanya menasehatiku dan bilang kepadaku kalau aku tidak boleh mengulangi perbuatanku lagi. 

Oleh karena itu sudah sepantas kita sebagai pendidik generasi bangsa dan sekaligus sebagai orang tua buat anak-anak kita sudah seharusnya untuk memberikan pendidikan terbaik dari usia dini dengan cara memberinya kasih sayang dan cinta dalam keluarga, mengajarkan tutur kata yang baik dan santun, menghormati kedua orang tua, menyekolahkan anak-anak kita menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi, agar menjadi orang hebat yang membanggakan orang tua, masyarakat dan Negara serta memiliki kepribadian yang baik dan bisa menjadi entrepreneur yang memotivasi banyak orang dengan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. 

Perkataanmu akan selalu dibandingkan dengan perbuatanmu. Apakah yang dikatakan sama dengan yang dikerjakan. Begitu juga komentarmu akan membuat orang mengecek kehidupanmu. Apakah pantas. Apakah sesuai. Apakah bisa dipercaya. Dua orang bisa mengatakan kalimat yang sama tetapi dihargai dengan cara yang berbeda. Kenapa? Karena nilai ucapanmu tergantung dari bagaimana caramu hidup. Jadi, berprilakulah seperti ucapanmu, karena kalau saya lihat kenyataanya yang terjadi di kehidupan sekarang, banyak yang serba abu-abu, ucapanya sebagai pendidik, kelakuannya mak lampir yang bertopeng manusia. Sadis melebihi iblis guys...

Ucapanmu adalah kualitas dirimu, untuk itu berbicaralah dengan cara yang baik dan jujur, sopan santun yang merupakan cerminan sikap mulia yang patut kita terapkan dalam kehidupan sehari-sehari. Berbicaralah yang baik yang menunujukan cerminan jika dirimu sangatlah berkualitas.

Nov 20, 2016

Kebahagiaan Yang Sebenaranya

Betapa kecewanya hati.
Ketika orang yang kita sukai.
Pada akhirnya tak bisa memiliki.


Akan lebih kecewa lagi.
Ketika orang yang telah kita miliki.
Tanpa alasan yang pasti dia memilih pergi.


Jangan karena hal itu maka menjadikan diri kita terlalu larut dalam kesedihan.
Dan menjadikan diri kita terus tenggelam dalam Kekecewaan yang teramat sangat.


Ketika kita harus kehilangan seseorang yang kita sayangi.
Tak perlu kita terlalu meratapi kepergiannya.
Tak perlu kita terlalu menangisi kepergiannya.
Tak perlu kita terlalu membuang air mata.
Tak perlu kita sampai putus asa dibuatnya.


Karena sesungguhnya..

Dia pergi akan ada yang menggantikan.
Dia pergi akan ada yang lebih baik lagi.
Dia pergi akan menguatkan hati.
Dia pergi akan melatih kita bangkit kembali.


Kepergiannya bukanlah akhir dari segalanya.
Di depan sana masih terbentang luas.
Untuk kita raih dengan sebuah harapan.
Yakinlah suatu hari nanti Allah akan memberi ganti yang lebih baik..


Orang Bijak Berkata:

“Kebahagiaan itu bukan karena DENGAN SIAPA kita hidup.
Akan tetapi kerana bagaimana kita MENJALANI & MENERIMA hidup dengan tulus dan ikhlas.”

Itulah kebahagiaan yang sebenar-benarnya.

Nov 19, 2016

Perasaan Orang Tua Banyak Yang Mengkristal Menjadi Doa

“Terberat dari orang tua adalah melepas anak untuk menjadi dirinya sendiri. Makin membesar anak, makin menipis lucunya, makin menebal persoalannya. Aku rela pada penderitaanku tapi tak rela pada penderitaan mereka. Itulah kelemahanku. Di dalam diri anak terdapat harapanku. Inilah yang memberatkan hidupnya karena harapanku, bukan harapannya.

Anak-anak selalu menjadi anak kecil di mata orang tuanya, dan inilah yang membuat anak tak sabar ingin segera menjadi dewasa. Orang tua ingin anaknya bahagia dengan cara mengganggu kebahagiaannya.

Anak-anak sering menolak diajak diskusi orang tua. Maka diskusi sering kuganti doa. Anak sibuk kuliah saja sudah membuatku sepi. Apalagi kelak ia bekerja dan berkeluarga. Aku lepas dari keluarga, anakku lepas dariku. Orang tua sering meminta anaknya terbang tinggi sekaligus memintanya untuk terbang dekat-dekat saja.” [@Prie_GS]
Pernahkah engkau membaca gurat kecemasan dalam raut wajah orang tua? Empty nest. Kecemasan yang timbul dari diri orang tua ketika anak-anaknya sudah beranjak dewasa dan perlahan satu persatu meninggalkan rumah. Entahlah. Isi hati orang tua memang seringkali sulit diterjemahkan.

Takut jauh. Mungkin memang sudah isyarat naluri jika Ayah dan Ibu selalu dirundung sindrom takut jauh. Bisa jadi, karena mereka khawatir dilupakan. Sebab, bukankah kita terus sibuk merapal bilangan usia, mengejar mimpi-mimpi, dan merindukan jodoh yang-entah-siapa-dan-dimana.


Bersamaan dengan itu pula, ayah dan ibu pun diam-diam menyimpan kecemasan. Bagaimana jika sang mimpi besar telah berhasil menelan memori tentang keluarga, tentang rumah kecil pemiliknya. Bagaimana jika karir anak-anak yang telah setinggi langit, membuat mereka merasa berat kembali ke Bumi, tempat kerinduan Ayah dan Ibu bersemayam.

Bersamaan dengan itu pula, ayah dan ibu pun menyimpan ketakutan. Bagaimana jika si jodoh yang terus kita pertanyakan, akan benar-benar membawa kita pergi jauh dari sisi mereka. Bagaimana jika sang belahan jiwa membuat nama mereka tak lagi disebut-sebut, tiada lagi diingat. Bagaimana jika ayah dan ibu tak lagi sehati dan sejiwa dengan anak-anak yang seumur hidup telah menjadi belahan jiwanya.

Pernahkah Ayah dan Ibu meminta kita tetap berada di dekatnya. Pergilah, tapi jangan jauh-jauh, Nak. Katanya. Atau justru sebaliknya. Dengan sengaja Ayah dan Ibu membiarkan kita melanglang jauh. Jangan khawatir, Nak. Doa Ibu telah menjadi payung teduhnya. Bagaimanapun mereka merelakanmu pergi, menjaga jarak untuk tetap berdekatan denganmu ibarat suplemen masa tua. Agar mereka tetap kuat dari balik tubuh ringkihnya yang termakan usia. Biar bisa meyakinkan diri jika dirimu baik-baik saja, dalihnya. Biar dekat dengan cucu, elaknya.

Bukankah kita seringkali terjebak paradoks? Apa yang sebenarnya dekat, rasanya seperti amat jauh, sebab kita tidak pernah benar-benar menghargai kedekatan itu. Sedangkan mereka yang ditimpa keterpisahan jarak, justru terus merasa dekat, sebab mereka mampu memahami bahwa jarak adalah cara lain untuk menjaga. Perasaan orang tua terlalu banyak yang mengkristal menjadi doa, daripada mengudara bersama kata. Sayangnya, kita masih tergagap menerjemahkannya.

Jauh tidak selalu berarti terpisah jarak. Dekat tidak selalu berarti terus bersama. Ini hanyalah soal rindu yang ingin terus dijaga nyalanya. Dan tahukah, yang menjaga rindu itu tetap menyala adalah doa. Sebab, bukankah doa anak-anak yang shalih ibarat cahaya yang tak pernah padam?

Nov 18, 2016

Virus Bohong Yang Bisa Menular

Bohong adalah sifat yang ada pada manusia yang ditemui ketika di tengah kehidupan. Keberadaannya sering disejajarkan letak dengan kejujuran  karena jujur adalah kebalikan bohong. Mengenalkan konsep bohong lebih mengerti dengan mengenalkan jujur atau kebalikannya.

Sebenarnya apakah itu kebohongan? Apakah penyebabnya? Apakah kebohongan merupakan suatu penyakit? apakah dia menular?
Mungkin pertanyaan itu akan muncul bagi mereka yang cenderung memiliki perasaan yang lebih sensitif, namun dilain pihak hal diatas pastilah menjadi pertanyaan semua orang.
Intinya kebohongan itu adalah perilaku yang tidak jujur, baik itu perlakukan, perkataan maupun tindakan yang tidak sesuai anda hati dan juga ucapan, antara pikiran dan juga lisan semua tak saling memiliki keterkaitan dan juga alasan. saya kira anda semua sudah tau apa itu kebohongan.

Dan selain daripada itu, kebohongan yang selalu sering dilakukan pun dapat menimbulkan suatu kebiasaan yang disebut dengan Mythomania. Mythomania itu sendiri adalah kecenderungan berbohong yang dimaksudkan bukan untuk menipu/mengelabuhi orang lain, tetapi justru untuk membantu dirinya sendiri mempercayai/meyakini kebohongannya sendiri. Mythomaniac memiliki pesona yang mampu memanipulasi orang lain, ia pandai menemukan kalimat dan sikap yang tepat dengan tujuan supaya dicintai, demi mencapai tujuannya. Jelaslah kiranya kebohongan itu dapat menyebabkan penyakit jiwa yang cukup mengerikan. bukankah kita tidak mau seperti demikian ?!!

Lantas.. Apakah kebohongan dapat menular?
Pertanyaan seperti ini mudah saja kita terima, sebab seperti yang kita ketahui, setiap manusia/individu itu akan terbentuk kepribadiannya melalui berbagai media perantara salah satu diantaranya adalah keluarga dan lingkungan. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa jika seseorang hidup dalam lingkungan yang suka berbohong maka pribadi yang lain pun akan melakukan hal yang sama, karena ia mengira dan menyakini bahwa hal itu merupakan hal yang lumrah bagi diri dan kelompoknya. MENGERIKAN sekali.

Menurut saya yang namanya kebohongan itu bisa menular, lah menularnya kenapa? koq bisa? Karena ada kejadian, seseorang merasa di bohongi oleh teman baiknya, pasti kecewa donk yang namanya di bohongi, lah secara tidak sadar akirnya suatu ketika dia berbalik berbohong kepada teman baiknya, karena ingin membalas kekecewaanya, bagaimana rasanya di bohongi, lah akirnya menjadi suatu kebiasaan juga kan, dan hal itu tanpa di sadari oleh manusianya itu sendiri, jika di tegurpun dia tidak akan pernah merasa berbohong, karena sudah menjadi suatu kebiasaan, baginya bohong sedikit tidak menjadi masalah, dan tidak merasa beban, jadi dalam hal apapun pasti ada embel-embelnya kebohongan.

Suatu ketika ada cerita nih, saya kan lagi jalan berdua dengan teman saya, ceritanya mau belanja, awalnya bareng jalanya, ehh tiba-tiba ditengah perjalanan aku jalanya lebih cepat karena biar nyampe tujuan, akirnya pisah donk, lah temanku masih di belakang, masih lihat-lihat kanan kiri sambil pelan-pelan jalanya, nah sesampai temanku di tempat bertemulah dengan saya dan tiba-tiba dia berkata begini pada saya, "Eh..aku tadi masih minggirin kendaraan, tiba-tiba di panggil tukang parkirnya tuch". Lahdalah..ya spontan donk aku jawab, "Loh bukanya tadi jalan pelan karen masih lihat kanan kiri, lagian posisi kita waktu berpisah kan sudah di lantai dua. Helloooo..., lah dengan seperti itu kalau menurut saya gak perlu juga kan di embel-embeli dengan bohong, lagian aku juga gak nanya, mau telat mau lambat, awalnya saya sih santai aja, jadi jengkel karena di bohongi dengan kata-kata gak penting. Nah itu dia, sesuatu yang terbiasa menjadi kebiasaan dan tidak merasa beban, seandainya mau jujurpun juga gak masalah, malah enak, tapi karena sudah terbiasa bohong, mau ngomong apapun kalau gak ada bohong sedikit gak asik keless.

Sebenarnya bukan hanya kebohongan saja yang bisa menular namun sifat buruk lainya. sadar atau tidak sadar terkadang kita selalu mengikuti apa yang dilakuakn orang lain tanpa melalui proses penyaringan, bahkan dengan jangka waktu yang tidak pernah di sangka-sangka. maka berhati-hatilah dalam bersikap, terkadang kita tidak mengetahui dan tidak menyadari prilaku buruk orang lain yang kita lihat dan kita dengar suatu saat dengan waktu yang tidak bisa diperkirakan akan menjadi sikap kita. maka dari itu ingat, "bila kamu berteman dengan penjual parfum tubuhmu akan wangi, namun bila kamu bergaul dengan penjual ikan asin maka tubuhmu akan bau asin".

Nov 15, 2016

Menjadi Perempuan Harus Pintar

Sesuai kodratnya, perempuan akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Ini juga sekaligus menjadikan perempuan sebagai guru pertama bagi anak yang akan mengajarkan banyak hal, salah satunya sopan santun. Sebelum menginjak bangku sekolah, ibulah yang akan mendidik anak-anak. Nah, jika perempuan memiliki pendidikan dan pengetahuan (wawasan umum dan juga dasar agama) yang cukup baik, maka ia akan mampu memberi pendidikan dasar yang baik pula bagi anak-anaknya.

Bukan hanya ketika masih lajang, bahkan setelah menikah pun, perempuan sebaiknya tetap memiliki kemandirian. Setidaknya dalam mengurus segala pekerjaan rumah tangga, perempuan yang mandiri dan pintar tidak akan banyak bergantung pada suaminya. Perempuan yang pintar akan memahami pembagian tugas suami dan istri meskipun sama-sama bertanggung jawab terhadap kehidupan rumah tangga.

Sebagian perempuan menganggap bahwa pendidikan tinggi tidak penting karena perempuan seharusnya hanya menjadi ibu rumah tangga. Memang perempuan tidak wajib menempuh pendidikan setinggi-tingginya lalu bekerja di luar, terutama jika harus mengabaikan keluarga. Namun pendidikan tinggi dan pengalaman bekerja akan membuat perempuan memiliki pemikiran yang lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas. Jadi gak cuma pemikiran perempuan yang ecek-ecek.

Perempuan yang pintar akan mampu berdiskusi dengan baik dalam hal apapun, bukan hanya soal rumah tangga. Meski kemudian tidak lagi bekerja alias menjadi ibu rumah tangga, perempuan yang pintar akan menjadi sahabat diskusi yang baik bagi suaminya.

Selain itu, dengan pengetahuan dan pendidikan yang baik, perempuan memiliki kesempatan besar untuk mengembangkan potensi dirinya dan sekaligus menerima serta mempelajari hal-hal baru (yang biasanya akan menjadi peluang bisnis). Menjadi ibu rumah tangga bukanlah halangan bagi perempuan pintar untuk tetap mengembangkan ketrampilan dan minatnya.
 
Perempuan yang pintar cenderung lebih percaya diri dan mampu membuka dirinya untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial, setidaknya lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Nov 11, 2016

Bersyukurlah

Sesekali bandingkan hidupmu dengan orang-orang yang broken-home, atau yang harus memulung sampah panas-panasan di bawah terik matahari, atau yang harus mengamen desak-desakan berpindah dari bus ke bus.

Atau tidak perlu terlalu jauh, bandingkan saja hidupmu dengan tetangga-tetanggamu yang hidupnya lebih susah.

Bersyukurlah kalian yang sudah menemukan cara untuk diri bermanfaat bagi orang lain.

Bersyukurlah kalian yang sudah menemukan cara menebar kebaikan tanpa menyinggung.

Bersyukurlah kalian yang telah menemukan jalan mewujudkan visi dan misi dalam hidup karenaNya.

Bersyukurlah. Karena ada yang ingin tapi belum menemukan cara yang tepat atau belum diberi petunjuk.

Terkadang kita sering tertukar untuk menentukan sebuah batas. Menggunakan batas maksimal nikmat untuk bersyukur, dan menggunakan batas minimal musibah untuk bersabar. Kita baru bersyukur ketika mendapatkan nikmat yang sangat besar, tapi sudah mengeluh dengan musibah yang begitu kecil. Padahal seharusnya, kita harus tetap bersyukur atas nikmat sekecil apapun dan berusaha sesabar mungkin untuk musibah sebesar apapun.
 
Orang-orang yang lebih banyak bersyukur, yang lebih sering berbagi meski kadang masih kekurangan, akan selalu merasa hidupnya berkecukupan dan penuh berkah. Rezekinya pun pasti akan Allah tambah.

Aku Rindu