Apr 24, 2015

Jadilah Seperti Berlian Berharga Dan Di Senangi banyak Orang



Apakah Anda termasuk pengagum berlian? Kemilaunya selalu indah dan menggoda mata. Kehalusan detail lekuk yang muncul membuat berlian semakin menarik jika dilihat. Dan untuk menjadi sebuah berlian yang menarik ada suatu proses yang sering kali luput dari perhatian banyak orang. Padahal proses tersebut sangat penting, dan bisa dibilang hal yang paling penting karena tanpa proses itu berlian tak kan indah dan berharga di mata semua orang.


Jika saja berlian hanya berbentuk batu yang tak beraturan dan tak berkilau, apakah Anda masih akan memamerkannya pada teman-teman Anda? Apakah di atas cincin pernikahan ditahtakan berlian sebagai lambang keabadian? Tentunya tidak akan demikian. Berlian berawal dari sebuah batu yang bentuknya sangat tidak beraturan, banyak bagian tajam. Namun kemudian para pengrajin membentuknya sedemikian rupa, menggosoknya agar berkilau. Melalui proses penempaan yang cukup lama dan berat untuk menjadi sebuah berlian yang cantik dan berharga.


Demikian juga Anda, yang juga mengalami berbagai proses di dalam hidup. Anda berawal dari seseorang yang tidak tahu, mengalami berbagai hal sedih dan bahagia, dari situ Anda menjadi tahu dan mendapatkan pengalaman baru. Proses itu berulang di dalam keseharian Anda, hanya kejadiannya saja yang tidak pernah sama. Namun Anda seperti batu yang ditempa untuk menjadi berlian.


Saat ini mungkin Anda sedang dalam kondisi yang buruk, kondisi keuangan yang tidak baik, serba mepet mungkin. Tak banyak relasi yang dapat membantu, dan mungkin hanya beberapa orang yang masih mau mengenal Anda, sedangkan yang lain hanya datang ketika Anda berbahagia. Belum lagi nuansa hujan yang mewarnai kesibukan Anda membawa oleh-oleh demam dan flu, sehingga kerja Anda tidak bisa maksimal.


Lelah memang menghadapi kondisi semacam itu, namun jangan pernah lupa. Sebuah berlian melewati proses yang hampir sama buruknya dengan Anda. Tak dengan mudah berlian menjadi dikenal dan digandrungi semua orang. Jika dipikir sekali lagi, berlian hanyalah batu biasa yang menjadi istimewa karena ditempa dan diasah sehingga berkilau dan indah. Begitu juga Anda, yang tak jauh beda dengan berlian, jika ingin menjadi seseorang yang sukses, banyak hal harus Anda lalui terlebih dahulu. Barulah Anda bisa menjadi seperti berlian, berkilau dan dicintai banyak orang.



Apr 23, 2015

Secangkir Kopi Rindu Untuk Mas Paijo...



Malam yang dinginnya mencaci, Menikmati secangkir kopi adalah sebaik-baiknya caraku meredam segala nyeri dan bunuh diri dari sepi.


Aku dan secangkir kopi adalah sepi, hitam dan pekat. asap hanyalah rindu yang samar yang terasa nyeri.


Entah apa yang ingin kukatan di kedalaman aksara, jika ada yang lebih dari cinta,itulah yang ingin kukatakan pada cangkir si Kopi.


Harum kopi ini mengajariku hidup dari impian sepahit apapun, kesedihan adalah hitam masalalu yg akan ku kenang, oh Kopi.


Kopi si kawan, ketika rinduku padamu menghantuiku, bibirku adalah secangkir kopi gula yg kuseruput berkali kali hangatnya.


Dan kopi adalah hitam yg penuh misteri, pada pahit yg menggigit… membuka mata pada hangat yang memeluk tiap nadi dan wangi.. aromanya memikat rasa di malam hari.


Pada puisi, malam dan kopi kuatang aku tuang adalah kerinduan yg tak pernah lekang hingga kesejatian hidup kujelang

Selamat malam mas paijoku sayang...

Cukuplah kamu satu-satunya yang aku punya, tempat kasih dan cintaku selalu menumpah, aku tak ingin mencintaimu dengan kata-kata, tak ingin menjatuhkan hatimu dengan puisi terindah dan menikmati secangkir kopi yang nikmat, tapi inilah bahasa cintaku yang paling sederhana yang aku tulis dengan mata berkaca-kaca dan dalam sesak yang telah menghimpit dada untukmu, aku akan selalu cinta hari ini, esok dan selamanya…

Selamat tidur dan memejamkan mata mas paijoku sayang...


Belajar Mendengarkan



Saya lebih suka mendengarkan kisah orang lain dan menyerap kejadian di sekitar saya. Karena terkadang, yang dibutuhkan orang lain hanyalah didengarkan.


Belajar mendengarkan mengajarkanmu menjadi lebih peka. Mengajarkanmu untuk mengunci mulutmu sejenak sebelum berbicara. Mengajarkanmu memahami makna dari cerita orang lain. Belajar mendengarkan berarti belajar membaca peristiwa dan mengambil hikmah di dalamnya,


Belajar mendengarkan akan membawamu pada hikmah dari kisah-kisah tak terduga dari lingkungan di sekitarmu, Belajar mengamati mengajarkanmu bahwa selalu ada hikmah dari setiap kisah yang tidak bersuara.


Lebih suka mendengarkan bukan berarti tidak butuh tempat untuk bercerita. Belajar mendengarkan mengajarkan kita untuk memilih kapan, dimana, dan kepada siapa sesuatu layak diceritakan. Bercerita tidak harus kepada manusia, menulis pun juga salah satu cara untuk bercerita. Bahkan pena dan kertas lebih sabar menampung ceritamu sebanyak-banyaknya, membuka diri selebar-lebarnya, hingga kamu bebas bercerita sejujur-jujurnya, karena tidak ada siapa-siapa. Ini bukan tentang orang lain, ini murni tentang kamu.


Belajar mendengarkan juga mengajarkan satu hal penting. Tak perlu banyak bicara, bila kamu tak bisa menjadi bagian dari solusi. Tak perlu banyak bertanya, karena pertanyaanmu bisa jadi adalah sumber masalah itu sendiri, bukan bagian dari solusi.



Belajar mendengarkan membawamu juga pada belajar bersabar, karena kisah dan takdir orang lain adalah miliknya sendiri, yang bisa kita lakukan adalah menemaninya hingga ia menemukan jawabannya, bukan memaksakan kehendak kita untuk mencampuri keputusan dan takdir orang lain.


Belajar mendengarkan juga mengajarkanmu untuk belajar berterima kasih kepada orang yang mempercayakan cerita-ceritanya kepadamu. Ia percaya bukan karena kamu hebat, tetapi ia percaya bahwa kamu adalah orang yang tepat.


Belajar mendengarkan adalah proses belajar seumur hidup. Membiarkan satu mulut berbicara lebih mudah dibandingkan memaksa kedua telinga untuk mendengarkan.


Terima kasih atas kepercayaannya.




Kesepian Dalam Keramaian



Di tengah keramaian, ada orang-orang yang kesepian. Mereka mungkin tertawa, membaur dalam canda bersamamu, namun jika kamu melihat mata mereka lebih dalam, kamu akan menemukan kekosongan di sana. Dan barangkali, keramaian tidak mampu mengisi rasa sepi di dalam hati mereka.

Di tengah hujan, ada orang-orang yang kesepian. Mereka berjalan sendiri sambil menatap rintik yang jatuh membasahi bumi. Sebagian dari mereka berpayung, sebagian lainnya membiarkan diri mereka tersentuh oleh hujan secara langsung. Mereka selalu menikmati hujan dalam gerimis maupun deras. Bagi mereka, hujan adalah sahabat terbaik untuk berbagi kisah kesepian yang tersimpan.

Di jalanan, ada orang-orang yang kesepian. Mereka bernyanyi dengan nada seadanya, diiringi petikan gitar atau sekadar bunyi nyaring dari alat musik ciptaan mereka sendiri. Kadang mereka terpaksa berlarian berebut lahan rezeki demi pecahan rupiah yang tidak seberapa. Mereka pun tidak mengenal seragam putih-merah untuk bersekolah. Orang-orang yang kesepian itu, selalu merasa cukup di dalam ketidakcukupan mereka.

Di dalam pusat perbelanjaan, ada orang-orang yang kesepian. Mereka memilah banyak barang dan membeli hampir semua yang diinginkannya. Semua orang akan melihat dirinya begitu bahagia, mampu membeli barang-barang termahal sekalipun. Mereka akan tersenyum puas sambil berfoto memamerkan belanjaan mereka, lalu mengunduhnya ke berbagai media sosial. Mereka hanya butuh komentar, pujian, dan juga kawan di media sosialnya. Semata untuk menunjukkan bahwa mereka tidak kesepian—padahal kenyataannya justru sebaliknya.
 
Selalu ada orang-orang yang kesepian di sekitar kita. Mereka menyimpan luka mereka sendiri dan enggan untuk berbagi. Jika saja kita mau melihat senyum pada wajah mereka, sebenarnya senyum itu bukan senyum dalam artian yang sebenarnya. Bukan pula tawa riang yang sebenarnya terlukis di dalam hati mereka. Tentu bukan.

Mereka kesepian; dan mungkin hanya itu pelarian terbaik yang mampu mereka lakukan.



Aku Rindu