Feb 23, 2016

Tidak Perlu

Tidak perlu ada yang merasa terluka karena kepergian, keputusan yang telah ia buat tak akan berubah hanya karena kau merasa terluka. Menangislah karena kepergian seseorang tapi jangan berlama-lama, kuatlah demi hatimu sendiri, bila kepergiannya membuat kau terluka lantas apa yang kau sisakan untuk oranglain yang lebih menghargai hatimu?

Tidak perlu ada yang merasa terluka karena kepergian. Karena seberapa kuatpun kau menahannya malah membuat kau merasa lebih terluka, relakan dan biarkan saja ia pergi, iringi dengan doa paling baik yang kau bisa. Bukankah kau mengerti bahwa doa adalah sebaik-baik penjagaan?

Duhai, tak perlu merasa terluka karena kepergian. Esok lusa kau akan mengerti mengapa ia pergi, mengapa ia meninggalkan kau. Walaupun ia tak pernah menjelaskan apapun tentang kepergiannya, tapi sungguh kau akan mengerti suatu hari nanti.

Kau boleh bersedih karena ditinggalkan, tapi jangan berhenti berjalan. Akan ada tangan baik hati yang mau menolongmu, yakinilah bahwa Tuhan amat mencintai kau dan akan Tuhan kirimkan orang yang paling pantas menjagamu.

Tidak perlu ada yang merasa terluka karena kepergian, sungguh tidak perlu.

Berulang Kali Jatuh

Bagimana rasanya, jatuh di tempat yang sama berulang kali?

Itu bukan salahmu bila kau telah memutuskan jatuh disana berulang kali. 
Nyatanya, kau tak merasakan sakit apapun bahkan ketika luka disana-sini, ketika orang lain mencoba mengeluarkanmu dari perasaan itu, kau malah enggan untuk ditolong. Lalu yang harus kau lakukan adalah, meyakini seberapa pentingnya dia hingga kau rela jatuh disana berulang kali.

Tak ada yang salah dengan jatuh ditempat yang sama berulang kali, kau hanya perlu bersyukur bahwa kau masih diberi Tuhan kesempatan memperjuangkan apa yang kau yakini. Bersyukur saja, karena jatuh dan luka adalah hal yang pasti datang bersamaan.

Bukan hal yang tak baik ketika kau jatuh pada tempat yang sama berkali-kali. Tak ada yang salah dalam jatuh cinta, sampai kau kehilangan akal sehat dan keimananmu.

Feb 22, 2016

Tentang Menikah

Bagi kebanyakan perempuan, menikah adalah seperti menemukan kepingan puzzle terakhir yang akan menggenapkan seluruh gambaran besar kepingan-kepingan kehidupannya. Menikah dibayangkan seperti adanya seorang pangeran berkuda yang datang dengan menawarkan hidup yang penuh dengan kebahagiaan. Kemudian, yang terlintas di pikiran adalah tentang pernikahan impian, gaun teranggun, riasan wajah tercantik, sampai kehidupan cinta ala fairy tale.

Bagi kebanyakan laki-laki, menikah adalah seperti menemukan pelabuhan terakhir atau rumah untuk pulang setelah melakukan banyak perjalanan. Menikah dibayangkan seperti adanya seorang permaisuri yang bersedia diajak menyusuri jalan setapak perjalanan. Kemudian, yang terlintas di pikiran adalah tentang seseorang yang akan membantunya mengurusi banyak detail tentang kehidupannya.

Tapi, jika ternyata menikah adalah tentang serangkaian kompetensi, apa pendapatmu? Bayangkanlah, untuk melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan saja kita membutuhkan kompetensi yang jelas dan terukur agar dapat diterima, apalagi untuk menjalani kehidupan pernikahan, bukan?

Hmm, jadi begini, setiap manusia lahir dengan potensi yang dimiliki. Potensi berarti sesuatu yang dibawa sejak lahir, namun bisa saja tidak muncul karena tidak pernah diasah atau diberi kesempatan untuk berkembang. Potensi sifatnya masih belum terlihat, dan potensi yang sudah dimunculkan dalam bentuk perilakulah yang kemudian dinamakan kompetensi. “Masalahnya, menikah itu tidak hanya membutuhkan potensi, tapi membutuhakan kompetensi yang detail yang muncul dalam perilaku-perilaku yang terukur.”

Nah lho, menikah ternyata butuh kompetensi! Kompetensi apa saja? Banyak! Diantaranya adalah kompetensi dalam hal keimanan, pengasuhan, hidup sebagai pasangan, kehidupan sosial, kematangan berpikir, kedewasaan bersikap, dll. Semuanya butuh persiapan, ilmu dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Maka, benar adanya bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan dalam masa menunggu adalah memperbaiki diri. 

Lantas, masihkah kamu berpikir bahwa menikah hanyalah tentang romansa dua orang yang jatuh cinta lalu memutuskan untuk hidup bersama?

Feb 19, 2016

Pentingnya Sadar Diri Di Kehidupan Kita



Kita sudah selayaknya dan seharusnya merasa bersyukur atas limpahan berkat Tuhan yang melimpah. Bersyukur tidak hanya atas hal-hal besar yang telah terjadi dalam kehidupan kita tapi juga terhadap banyak hal kecil yang terkadang tidak kita sadari. Betapa Tuhan telah dengan begitu baiknya menganugerahkan begitu banyak hal kepada kita umatNya. Hanya sayang, kita manusia sering tidak memiliki rasa “sadar diri”. 

Banyak kejadian yang menimpa manusia berawal dari sikap seseorang yang tidak sadar diri. Banyak peristiwa buruk terjadi hanya karena seseorang atau sekelompok orang tidak sadar diri. Terkadang hal yang baik akan berlangsung jika setiap orang memilliki rasa sadar diri. Sadar akan posisi dan potensi yang dimiliki diri sendiri. Dengan sadar diri, seseorang dapat memiliki fondasi atau dasar yang kokoh dalam menjalani kehidupan. Mengapa setiap orang perlu “sadar diri”? 

Mengapa “sadar diri” begitu penting dalam kehidupan? Banyak hal yang dapat kita jadikan contoh.

Seorang suami selayaknya dan seharusnya sadar diri bahwa dirinya adalah suami dari seorang istri. Jika dia sadar diri, tentunya sepulang kerja dia tidak mungkin masih bersantai-santai nongkrong di café hingga larut malam, tebar pesona kepada para gadis, menggoda wanita yang sudah jelas-jelas istri orang lain, lirik sana lirik sini, atau berbaik hati mengantarkan pulang teman wanita. Dia tidak sadar diri bahwa dia seorang suami yang istrinya di rumah telah tiga kali menghangatkan sayur sambil terkantuk-kantuk menunggu pulangnya suami. 

Seorang istri selayaknya dan seharusnya sadar diri bahwa dirinya adalah istri dari seorang suami. Jika dia sadar diri, tentunya tidak akan berani bergenit-genit ria di depan lelaki lain, bermanja-manja pada suami orang lain, menggoda berondong, karaokean hingga larut suka-suka yang di mau, atau lupa bahwa hari telah larut dan dia harus pulang ke rumah. Dia seharusnya sadar diri bahwa dia hanya bisa bergenit dan bermanja pada suaminya seorang dan memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Dia seharusnya ingat, bahwa di rumah anak-anak telah menunggu perhatian dan kasih sayangnya. Jika suami dan istri sadar diri, sadar akan posisinya masing-masing, alangkah indahnya…

Sadar diri tidak hanya sadar akan posisi diri sendiri, tapi juga sadar akan potensi yang ada dalam dirinya. Seseorang yang sadar diri memiliki kesadaran akan potensi dan kelemahan yang dimiliki dirinya sendiri. Ketika seseorang sadar diri bahwa dia memiliki potensi di dunia tarik suara dan tidak cukup pintar dalam hal akademik, tentunya dia seharusnya sadar diri untuk tidak memaksakan mengambil kuliah jurusan elektro tapi lebih memilih memperdalam teknik bernyanyinya. Jika seseorang sadar diri bahwa dia kurang cerdas dalam hal akademik, tentunya dia akan menggali potensi dirinya yang lain. Sadar diri akan membawa kita pada penggalian potensi diri yang lain, tidak memaksakan diri, dan pada akhirnya dapat memaksimalkan hasil. 

Sebagai bangsa yang hidup di tengah negeri yang berlimpah sumber daya alam, kita seharusnya sadar diri bahwa tidak semua sumber daya alam tidak tak terbatas. Banyak sumber daya alam yang terbatas. Kita sebaiknya sadar diri bahwa sumber daya alam tersebut tidak hanya milik kita tapi juga milik generasi setelah kita, milik anak cucu. Dengan sadar diri bahwa sumber daya alam ada batasnya, akan menimbulkan rasa tanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik dan benar. 

Sebagai manusia, harus sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Semoga semuanya akan sadar jika kita sudah dibekali rasa sadar diri, dan mampu mengukur diri sendiri.


Feb 18, 2016

Wajah Pas-pasan Banyak Tingkah



“Padahal istrinya cantik begitu, eh selingkuhnya kok sama janda yang jelek begitu ya? Cara berpikirnya gimana sih. Bingung bener saya...” 

Kalimat itu saya dengar ketika sedang mesan makanan nasi bebek di suatu malam kapan hari. sahut penjual nasi bebek menanggapi. “Ah, tidak juga. Kurang seksi apa itu si istri?” kata si pembawa cerita menjawab. Keduanya kemudian terlibat ukur-mengukur mana yang jauh lebih seksi di antara kedua wanita itu. Saya yang menyimak sembari pesanan selesai, hanya senyum-senyum simpul. 

“Mungkin kena pelet, atau guna-guna kale ye?” kata penjual nasi bebek lagi. Si pembawa cerita ngakak. “Yaaa bisa juga itu. Ya barangkali memang begitu? Kena guna-guna? Makanya, meski gak cantik, dianya jadi tergila-gila sama itu janda...” 

Omong-omong soal wanita cantik, perbincangan antara penjual nasi bebek dan temannya mengingatkan dialog saya dengan beberapa wanita cantik semasa kuliah lampau.

Di antara teman wanita saya yang dikenal cantik, ada yang punya kasus serupa di atas meskipun tidak sama. Kisahnya, teman wanita cantik ini jadi obrolan di kalangan teman-teman, mereka merasa bingung dengan pilihan teman cantik ini. Apa pasalnya? 

Ternyata dia lebih memilih menikah dengan teman satu lokasi KKN-nya. Yang bikin penasaran, karena sosok lelakinya tersebut sangat jauh dari pacar-pacar wanita cantik ini di sebelum-sebelumnya. Pacar-pacarnya terdahulu, bukan hanya punya wajah yang tampan, tetapi juga berkelas secara materi. 

Tapi lelaki yang dinikahinya sekarang? Secara ketampanan, jelas tak bisa dibilang tampan, apalagi secara ekonomi. Jauhhh sekali kelasnya, demikian celoteh teman-teman kala itu. 

Suatu hari, saya diam-diam mencoba mencari tahu apa alasan wanita cantik ini kok bisa turun kelas dalam memilih pasangan akhir. “Ya memang sih, cowok-cowok saya sebelumnya cakep-cakep, dan minimal punya motor tiger. Gak kayak suami saya sekarang, motornya butut...” begitu kata wanita cantik ini sewaktu terlibat obrolan dengan saya. 

“Masalahnya, berkali-kali pacaran dengan mereka, saya lebih banyak dapat kecewa dan sakit hati, ketimbang dapat bahagia dan senangnya..” 

“Loh, memangnya kenapa Mbak?” tanya saya. 

“Ya iya sih, secara materi dan fisik pacar-pacar saya keren-keren. Tapi lama-lama saya sadar, rata-rata dari mereka memperlakukan saya tak lebih dari sekedar kesenangan belaka,” 

“Maksudnya mbak?” 

“Mungkin sebagai pacar mereka keren, tapi saya tak hanya butuh seorang pacar, tetapi juga seseorang yang mampu melindungi saya, baik secara fisik maupun secara psikologis!” katanya nampak garang. 

“Lagi pula, materi yang mereka peroleh dari mana? Dari orang tuanya! Saya jadi kepikiran, misalkan kami menikah, apa bisa dia mencari uang sendiri, untuk hidupi keluarga? Bagaimana menurut sampean? Apa saya salah berpikir begitu?” 

Saya lantas manggut-manggut mengiyakan. Dia juga bercerita soal suami yang sekarang jadi pilihannya tersebut. “Ketulusannya, kasih-sayangnya yang totalitas, dan juga dia mampu hidup secara mandiri. Itulah sisi plusnya dia bagi saya!” 

Rupa-rupanya itulah rahasianya. Lebih-lebih, wanita cantik ini bukanlah yang pertama saya temui. Beberapa wanita dengan kasus serupa yang saya juga jumpai, jawabannya juga tidak jauh-jauh dari apa yang dikatakannya itu. 

Saya juga menemukan fenomena yang sama terjadi pada pihak laki-laki. Yang mana, dulunya pacarnya cantik-cantik, tetapi begitu menikah, ternyata wanita pilihannya berwajah sangat biasa. Ya biasa-biasa saja. 

Tetapi saya juga punya teman wanita yang sudah bersuami, kalau saya lihat wajah sih biasa aja, dibilang cantik juga gak, pendidikan juga hanya lulusan SMA dan pendidikan nambah setahun sudah cukup, kalau saya menilai cara berpikirnya juga sempit, dangkal, kenapa saya bilang begitu, karena yang ada di dalam otaknya hanya lelaki, selingkuh dan seks, kalau di ajak berpikir yang lain dengan wawasan yang luas, pikiran temanku gak sampai alias gak nutut kalau bahasa jawanya begitu sih. Nah ternyata teman saya wanita ini, meskipun wajah pas-pasan, cantiknyapun juga mepet, gayanya aja juga norak lebay, meskipun sudah di buat ala-ala wanita elegan, dia malah lebih gila loh selingkuhnya, gak tanggung-tanggung, lelaki manapun di nikmatinya, baginya setiap saat gonta ganti selingkuhan azyuk-azyuk aja, padahal suaminya baik, pendiam, nurut, gak neko-neko, gak banyak tingkah kayak istrinya, hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja, tapi istrinya yang berwajah biasahh sajahh, kelakuanya seperti setan yang kesurupan kalau sudah selingkuh, ihhh...coba bayangkan, apa gak gemes tuh? 

Waktu saya ceritakan pengalaman saya ini pada teman-teman, banyak tanggapan yang mereka ungkapkan. “Apakah itu berarti, kita lebih baik memilih yang tidak cantik?” kata teman-teman. 

“Mungkin? Tapi pada kenyataanya meskipun mendapatkan yang tidak cantik, wajah pas-pasan, tetep aja doyan selingkuh, malah yang cantik-cantik itu loh yang gak banyak tingkah lebay” sahut saya asal. 

“Kalau sudah cinta, rasa-rasanya bukan lagi soal cantik dan tidak cantik deh,  hanya soal kesesuaian, apakah dia mau menerima ketidaksempurnaan kita. Kurasa banyak juga wanita cantik yang memiliki sikap macam ini. Malah di jaman sekarang banyak wanita wajah pas-pasan dan kampungan yang banyak tingkah, kalau bahasa jawanya, (gak ayu kemanyu), Iya kan?”

Feb 17, 2016

Ketika Sahabat Dekat, Menjadi Penghianat

Sahabat merupakan teman sejati dalam hidup yang selalu ada disaat kita susah dan senang. Dalam hidup kita tak mungkin sendiri. Karena dalam hidup kita pasti berbagi suatu hal dengan orang-orang yang ada di dekat kita. 

Kita terkadang percaya penuh dengan sahabat kita, melebihi apapun. Apapun yang kita rasakan sahabat kita tempat curahan hati semua yang mengendap di hati kita. Tidak ada sedikitpun kita punya rasa untuk curiga dengan sahabat, malah terkadang kita mementingkan sahabat di banding diri kita.
 
Kita harus sadar betul kalau sahabat itu memang sangat penting. Karena, sahabatlah yang menjadi teman hidup tempat kita untuk berbagi cerita suka maupun duka. Sahabat itu bagaikan bayangan kita yang selalu siap untuk membantu disaat kita sedang membutuhkan bantuan. Sahabat adalah teman yang paling dekat dengan kita. Sahabat juga merupakan orang yang paling tau kelemahan serta kelebihan kita.

Namun, ketika sahabat menjadi penghambat dia akan menjadi pengkhianat juga. Dia akan melakukan apa saja yang dia tidak suka atas dirikita. Bisa juga dia akan menjatuhkan kita disaat kita sedang berusaha. Tak sedikitpun dia merasa sedih disaat kita sedang susah, tapi dia malah senang ketika kita sedang susah dan terjatuh. Pastinya kita akan kecewa kan, ketika sahabat kita sendiri menjadi penghambat dan berkhianat? Apakah itu yang disebut sahabat?
Macam sahabat apa itu??

Bukankan arti sahabat itu susah senang selalu bersama?

Tapi mengapa malah sebaliknya!

Apa gunanya punya sahabat tapi mereka malah menjadi penghambat dan pengkhianat untuk kita!

Semoga para sahabat mengerti benar tentang makna persahabatan bukan makna pengkhianatan. 

Hati-hati bagi semuanya saja yang mempunyai sahabat, karena sahabat itu berpotensi jahat dan pengkhianat.
Sahabat merupakan teman sejati dalam hidup yang selalu ada disaat kita susah dan senang. Dalam hidup kita tak mungkin sendiri. Karena dalam hidup kita pasti berbagi suatu hal dengan orang-orang yang ada di dekat kita. Kita harus sadar betul kalau sahabat itu memang sangat penting. Karena, sahabatlah yang menjadi teman hidup tempat kita untuk berbagi cerita suka maupun duka. Sahabat itu bagaikan bayangan kita yang selalu siap untuk membantu disaat kita sedang membutuhkan bantuan. Sahabat adalah teman yang paling dekat dengan kita. Sahabat juga merupakan orang yang paling tau kelemahan serta kelebihan kita. Namun, ketika sahabat menjadi penghambat dia akan menjadi pengkhianat juga. Dia akan melakukan apa saja yang dia tidak suka atas dirikita. Bisa juga dia akan menjatuhkan kita disaat kita sedang berusaha. Tak sedikitpun dia merasa sedih disaat kita sedang susah, tapi dia malah senang ketika kita sedang susah dan terjatuh. Pastinya kita akan kecewa kan, ketika sahabat kita sendiri menjadi penghambat dan berkhianat? Apakah itu yang disebut sahabat? Macam sahabat apa itu??

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/momentkebersamaan.com/ketika-sahabat-menjadi-penghambat-dan-pengkhianat_55856bb8d67a61401af2abd7

Keindahan Dhuha

Ya Allah, sesungguhnya waktu Dhuha itu waktu Dhuha-Mu,
keagungannya adalah keagungan-Mu, keindahannya itu keindahan-Mu,
kekuatannya itu kekuatan-Mu, kekuasaan itu kekuasaan-Mu
dan perlindungan itu perlindungan-Mu.
 
Ya Allah, jika rejekiku masih di langit turunkanlah, dan jika di dalam bumi
keluarkanlah, jika sukar permudahlah, jika haram sucikanlah 
dan jika jauh dekatkanlah.
 
Berkat waktu Dhuha, kecantikan, keindahan, kekuatan, kekuasaan-Mu,
limpahkanlah kepadaku segala yang Engkau telah limpahkan kepada
hamba-hamba-Mu yang sholeh.
Amin.

Aku Rindu