Dec 30, 2015

Begitu Indahnya Pantai PaPuMa Jember

Pada tau gak sih Jember ada dimana? Jember itu letaknya di selatan Jawa Timur, di sebelah barat berbatasan dengan Lumajang dan di timur berbatasan dengan Banyuwangi. Jember juga merupakan salah satu daerah peghasil tembakau terbaik di Indonesia. Cerutunya juga banyak dikirim keluar negeri loh. Satu lagi yang perlu diingat, Jember adalah pelopor acara karnaval kreatif yang saat ini banyak diikuti daerah lain. Yups! Jember Fashion Carnaval (JFC) yang biasa diadakan di bulan Agustus sebagai rangkaian memperingati hari kemerdekaan RI. Selain unggul di perkebunan dan kreatif pemudanya, Jember juga punya lokasi pesisir. Salah satu pantai yang indah dan banyak dikunjungi wisatawan adalah Pantai PaPuMa (Pasir Putih Malikan). Kebetulan kapan hari itu saya sedang senggang dan ingin berwisata bersama suami,  ibu dan saudaraku  yang sedang berada di rumah, kami pun memilih Pantai PaPuMa untuk bersantai. Pantai PaPuMa terletak di Kecamatan Wuluhan, sekitar 45 km dari pusat kota Jember. Perjalanan bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi baik roda dua atau roda empat. Tapi jangan menggunakan roda dua tanpa motor ya, tar kaki kalian gempor karena jalannya naik turun. Dan tidak perlu khawatir 45 km itu gak lama kok kalau di Jember karna gak macet, beda sama di kota-kota besar. Dan gak perlu khawatir juga, karena mendekati lokasi Pantai PaPuMa kalian akan merasa seperti sedang musim gugur di Eropa. Coba liat dulu deh..., indahnya luar biasa.



Jalan menuju PaPuMa Diawali perjalanan yang indah, menuju lokasi juga semakin indah. Untuk mencapai PaPuMa kita harus menuruni bukit, nah pemandangan dari atas itu indah banget... Terlihat pasir putih dan kapal-kapal nelayan yang bersandar, dihiasi dua batu besar yang menjulang tinggi.

Pemandangan PaPuMa dari atas Setelah memarkirkan kendaraan, kalian akan melewati banyak pepohonan. Hati-hati ya, karena banyak monyet yang bermain di sekitar pohon. Jangan sampai makanan kalian diambil, apalagi sampe barang berharga  kalian dirampas, nyesel ntar pulangnya.

Di pantai PaPuMa kalian bisa menikmati pemandangan, berjalan-jalan di tepi pantai, makan ikan bakar dan minum es kelapa juga. Saat pantai surut, terlihat ikan-ikan kecil berkejar-kejaran dan beberapa bulu babi. Kalau untuk berenang, kalian bolehnya cuma mencicipi pinggiran pantai. Kenapa? Karena ini pantai selatan. Pantai selatan memiliki kontur yang relatif terjal dan banyak palung, berbeda dengan pantai utara yang landai. So, untuk menghindari resiko, di Pantai PaPuMa dilarang berenang.


Salah satu kapal nelayan yang sandar di PaPuMa
Menyusuri jalan sepanjang pantai Warung seafood di sepanjang pantai

Larangan berenang di pantai

Kalau berkunjung ke Jember, jangan lupa mampir di Pantai PaPuMa ya...

Dec 29, 2015

Cinta Yang Bahagia

Jika membicarakan kebahagiaan,kita harus mengetahui diri sendiri, apa yang membuat kita merasa bahagia. Sebab, kebahagiaan harus kita sendiri yang membuat, bukan kita yang mencarinya. Asal muasal rasa bahagia berada di dalam sanubari kita sendiri. 
Percuma pergi ke ujung dunia untuk mencari kebahagiaan. Kebahagiaan tak akan kita dapatkan di mana pun, kecuali kita yang membuat diri sendiri berbahagia di mana pun dan kapan pun. 

Salah satu faktor yang paling penting untuk membuat kita tetap bahagia, adalah mencintai dan merasa dicintai. Bersikaplah realitis dan rencanakan sejumlah mukjizat untuk diri sendiri dan merasakan kebahagiaan itu datang dan terjadi pada kita, sebab cinta itu perlu keutuhan tubuh, pikiran, dan jiwa. 

Cinta seperti segala sesuatu lainnya adalah sebuah pilihan. Pada setiap saat dalam perjumpaan dengan orang lain, atau dalam setiap pikiran tentang diri kita sendiri, kita memiliki suatu pilihan: entah untuk menghakimi atau coba untuk mengerti terhadap apa yang sedang dihadapi, yang harus dijalani, dan yang akan direncanakan. 

Cinta adalah energi. Rasakan energi itu mengalir ke dalam bagian tubuh kita, maka kita merasakan satu kehangatan, kedamaian, dan kebahagiaan, memasuki tubuh dan sanubari. 

Dan energi cinta itu tidak harus selalu kita dapatkan dari luar. Justru yang paling manjur adalah cinta yang dihasilkan dari diri kita sendiri. Dengan mencintai dan jujur pada diri kita sendiri tentang arti cinta, maka kita tidak akan menyia- nyiakan cinta yang sudah ada dan ber- tumbuh dalam diri kita. Itulah awal pabrik kebahagiaan berproduksi dalam hati. 

Sering terjadi pada banyak pasangan yang menyia-nyiakan perasaan cinta, yang tadinya menjadi suatu awal untuk keputusan hidup bersama. Kita sering lengah untuk memelihara cinta tersebut. 

Cinta yang dalam adalah dalam bentuk kasih sayang yang bisa kita ibaratkan seperti sebuah otot dalam tubuh kita, semakin dilatih dan dipelihara, maka akan jadi semakin kuat dan semakin bermanfaat untuk melancarkan gerakan dalam hidup. 

Pada saat cinta mulai memudar dan perlahan tapi pasti kasih sayang terhadap pasangan mulai menghilang, maka kita baru sadar bahwa selama ini kita tidak menghargai keberadan cinta pasangan kita. Di saat kita memiliki penuh, justru kita sia-siakan! Tetapi, di saat kita mulai merasa terancam kehilangan, kita berusaha mati-matian untuk mendapatkan pengakuan bahwa dia harus tetap menjadi milik kita! Sayangnya, dalam berjuang mempertahankan atau mencoba mengembalikan cinta pasangan, yang banyak terjadi adalah kita tidak kembali merebut cinta dengan cinta. 

Kita salah langkah, salah bertindak, juga salah mengadaptasikan kembali cinta itu pada keharmonisan hubungan. Maka, yang terjadi adalah cinta semakin jauh untuk dikembalikan dan semakin jauh pula untuk diraih.

Dec 27, 2015

Di Keabadian Cinta

Yang tertinggal hanya butiran sesal....
menghimpit sesak dalam jiwa... 
yang tersisa hanya segumpal airmata...
menghentak di sudut luka...
cinta tak pelak menghapus dalam nanar...
cinta akhirnya sentuh bagian perih.... 
cinta mendekap dalam luluh... 
cinta membuai dalam lirih... 
maafku untuk seluruh sakitmu... 
maafku untuk seluruh lukamu... 
senyum kini mulai membias biru... 
membawa setitik tawa dalam senja... 
semua akan indah pada waktunya.... 
semua akan bahagia pada akhirnya.... 
hanya torehan harapan dan asa... 
hanya lukisan mimpi akan masa depan... bersamamu... 
berdua.... 
menapaki tangga cinta dan kerinduan... 
hingga diujung waktu.... 
saat kedua mata tak mampu membuka... tertutup rapat dalam damai keabadian cinta selamanya...

Membaca Dan Menulis

Saya membaca di suatu media cetak, bahwa orang-orang di jaman media sosial saat ini mengalami kesulitan untuk membiasakan dirinya « membaca linear ».. yakni membaca suatu teks secara runut dan tuntas dalam bentuk bacaan yang murni teks, karena sejatinya orang-orang yang terbiasa dengan telepon pintar dan aplikasi-aplikasi di dalamnya cenderung terkurung dengan kenyamanan membaca cepat (scanning)terutama pada tampilan teks yang singkat dan dipadupadankan dengan gambar.

Dalam media tersebut dijabarkan, dengan sulitnya membiasakan membaca linear, orang-orang menjadi semakin sulit untuk fokus terhadap satu hal. 

Dalam hal ini mungkin untuk menuntaskan satu artikel panjang yang penuh teks, tampaknya membutuhkan banyak waktu. Lain jika terbiasa dengan membaca majalah dengan tampilan teks, gambar dan tajuk utama serta sub-tajuk yang dapat mewakili konteks artikel secara keseluruhan, biasanya tidak memerlukan konsentrasi yang lebih banyak, serta pemahaman menjadi lebih mudah.

Prihatin ? Lumayan. Tidak bermaksud hipokrit bahwa saya juga menyukai majalah dan sesuatu yang populer dan ringan. Tapi perlu diakui bahwa artikel dan buku dengan konten murni teks di dalamnya adalah hal yang juga perlu dieksplor dan dibaca. Terutama bagi mereka yang merupakan mahasiswa/i hukum yang diwajibkan membaca buku dan berpikir analisis secara kontekstual, tentu harus memiliki kebiasaan membaca linear dan fokus terhadap satu bacaan sampai tuntas.

Mungkin harus dibiasakan dengan kebiasaan yang akumulatif ; diawali dengan teks pendek, mencoba mencari majalah yang lebih banyak bobot artikelnya, dan setiap harinya berkembang menjadi satu artikel, dua artikel, satu buku, dua buku, sampai dikemudian hari membaca menjadi kebutuhan tersendiri untuk mengisi waktu. 

Tentu dengan syarat dan kondisi : carilah buku dan bacaan yang bermutu.Bagaimana dengan menulis ?Saya suka menulis, mau itu tulisan sampah, tidak ada pentingnya sama sekali, sampai yang tidak perlu dibaca, yang penting saya tulis. 

Tulisan tidak akan pernah punah sampai kapanpun, dan tulisan merupakan transkrip atau manuskrip yang tak lekang oleh waktu, bahkan sejak jaman purbakala pun, tulisan dan tipografi sudah terciptakan dan dikembangkan oleh peradaban manusia.Menulis, dapat melampiaskan kebiasaan buruk yang saya punya, yakni “pelupa”. 

Dengan menulis, maka saya dapat merekonstruksikan kembali suatu peristiwa dari hal-hal kecil sampai besar dalam suatu wacana yang sifatnya evaluatif.Menulis juga dapat dijadikan bentuk refleksi diri dan mendokumentasikan suatu peristiwa dalam bentuk teks. 

Pada masa yang akan datang, kamu bisa menelusuri siapa kamu dan berada di mana dirimu ketika menulis hal tersebut, apa yang kamu dapat, pengetahuan seperti apa yang pernah kamu peroleh dan pencapaian tertentu...dan yang terakhir, menulis juga berguna untuk melampiaskan emosi.

Setiap manusia pasti membutuhkan media untuk melampiaskan emosinya, bukan?Setiap ciptaan pasti memiliki batas tertentu sampai di mana ia sanggup menahan dan melepaskannya.

Robot manufaktur yang diciptakan dan memiliki masa pakainya sendiri.Makanan instan yang memiliki batasan tanggal kadaluarsa untuk dikonsumsi.

Manusia yang memiliki tingkat kesabaran dan batasan tertentu...yang tak terbatas tentu saja hanya milik Semesta.

Dec 16, 2015

Jangan Menilai Orang Dari Ibadahnya Tetapi Nilailah Dari Perilakunya

BANYAK orang Indonesia yang mudah terkecoh atau tertipu penampilan. Misalnya, orang yang pakai gelar sarjana dianggap orang pandai, orang yang pakai gelar H/Hj atau Haji/Hajah dikira orang yang suci, orang yang punya rumah mewah dan mobil mewah dianggap orang suci. Koperasi simpan pinjam yang dikelola oleh seorang ustadz dikira orang jujur. 
Pengobatan yang dilakukan seorang ustadz dipercaya walaupun bayarnya mahal.  Pilih capres karena wajahnya ganteng. Pilih caleg karena janjinya indah sekali. Orang yang rajin beribadah atau rajin ke masjid dianggap orang baik-baik.  Mereka yang berpeci, berjilbab, bersurban, memakai jubah putih dianggap orang yang semua ucapannya layak dipercaya. Buntut-buntutnya mereka pembohong, penipu atau pelaku kriminal. Tak jarang juga mereka pengidap psikopat atau penderita sakit jiwa terselubung.

Apakah agama itu?

Agama adalah “pedoman perilaku”. Tidak lebih dari itu. Agama bukan pengubah perilaku. Agama bukan penentu perilaku. Baik tidaknya perilaku manusia tergantung manusia itu sendiri. Tidak ditentukan agamanya, ibadahnya, gelar sarjananya, gelar haji/hajahnya,pecinya atau jilbabnya. Perilaku manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri.

Banyak penipuan mengatasnamakan agama

Cukup banyak penipuan dengan kedok agama. Banyak yang berpenampilan sok suci, sok jujur dan sok bersih ataupun sok sopan. Mulai dari meminta sumbangan dengan dalih untuk pembangunan masjid, dari RT ke RT. Akan mengadakan acara ini acara itu atas nama agama. Pengobatan alternatif yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Menjual stiker-stiker agama, buku-buku agama. Mengadakan kegiyatan rukiyah atas nama agama.  Dan semua kegiatan agama dan atas nama agama tetapi punya-punya maksud menipu.

Kenapa masyarakat kita mudah ditipu?

Sebab, semua kegiatan yang mengatasnamakan agama dianggap benar-benar bertujuan baik. Apalagi ada “ajaran” umat beragama tidak boleh “suudzon”. Tidak boleh berprasangka buruk. Bahkan juga ada sikap “sami’ na wa atho’na yang mengatakan “saya mendengarkan dan saya melakukannya”, apa yang dikatakan guru agamanya dianggap benar dan diikuti. Apalagi masyarakat kita sangat mengharga profesi guru agama, ustadz atau ulama. Bahkan partai yang berazaskan agama juga dianggap benar-benar membawa aspirasi umat beragama, terutama umat Islam. Husnudzon atau prasangka baik masyarakat telah disalahgunakan oleh oknum-oknum yang mengaku guru agama, ustadz atau ulama. Semua tujuan yang baik ternyata hanya “kelihatannya” saja. Semua tujuan baik telah disalah gunakan.

Perlunya sikap berhati-hati

Tidak ada cara lain untuk menghindarkan diri dari penipuan yang berkedokkan agama atau profesi-profesi agama. Jika perlu bertanya kepada orang lain yang sudah punya pengalaman dan terbukti positif. Berhati-hati tidak sama dengan bersuudzon. Berhati-hati artinya “percaya” tetapi hanya “50%” dulu. Sebab, yang “50%” adalah hal-hal yang masih harus dibuktikan dulu berdasarkan saksi, bukti atau fakta.

Agama bukan untuk dikomersilkan

Ada baiknya semua umat beragama sadar bahwa agama bukanlah untuk dikomersilkan. Ayat-ayat suci bukan untuk diperjual belikan. Kalau alasannya “cari makan”, maka sebaiknya cari usaha lain yang halal. Cara-cara halal jumlahnya sangat banyak dan sangat terbuka lebar. Dunia usaha halal jumlahnya ada ratusan ribu usaha. Mulai dari yang tanpa modal, modal sedikit, modal sedang hingga modal besar. Yang penting ada kemauan dan semangat.

Banyak yang rajin beribadah tetapi perilakunya buruk

Cukup banyak orang yang rajin beribadah tetapi perilakunya buruk. Antara lain sirik. Pinjam uang tidak mau bayar. Suka mencela dan memfitnah. Berpenyakit hati (sombong dan lain-lain). Membenci agama lain, membenci suku lain dan semacamnya. Suka menyalahkan orang lain. Narsis berlebihan. Suka mengucapkan kata kasar, tak sopan dan tak senonoh. Suka berbohong atau menipu. Suka ingkar janji. Buang sampah sembarangan. Tidak disiplin berlalu lintas. Suka melanggar peraturan perundang-undangan. Korupsi, kolusi, nepotisme, suap,sogok,gratifikasi. Berbuat maksiat. Dan, perilaku buruk lainnya.

Sebaiknya pendekatan ke orang yang bisa dipercaya

Sebaiknya kita tidak mudah percaya kepada siapapun juga sebelum ada bukti, saksi dan fakta. Jika perlu, kita wajib bertanya kepada orang-orang yang benar-benar bisa kita percaya. Yang pasti jangan mudah terkecoh oleh penampilan seseorang. Jangan mudah terkecoh oleh agama atau ibadah seseorang. Nilailah orang dari perilakunya, dari kualitasnya, bukan dari yang lain-lain.

Dec 15, 2015

Sesuatu Yang Sempurna

“Jika engkau mencari orang yang sempurna untuk menjadi pendampingmu, umurmu akan habis sebelum menemukannya. Menikah itu saling berbenah.

Bukan setaranya jenjang pendidikan yang menjadikan suami-istri bahagia, tetapi penerimaan dan saling ridha yang jauh lebih berharga. Betapa banyak yang sama-sama tinggi jenjang pendidikannya, tapi ruwet pernikahannya. Bahkan sejak tahun awal pernikahan, sudah penuh dengan kisah pertengkaran.

Makin tinggi harapan tentang apa yang ingin kita raih dalam pernikahan, makin sulit merasakan kebaikan pasangan kita, meski ia sangat baik. Makin besar yang ingin kita perjuangkan dalam pernikahan, makin mudah kita menerima kekurangannya. Kita lebih berlapang dada untuk berbenah.

Inilah yang lebih penting untuk kita siapkan. Berapa banyak yang menikah dengan berbekal cinta menggebu, tapi segera kecewa usai bulan madu.”

Sifat Genit Merendahkan Harga Diri Seseorang Dan Harga Diri Pasanganya

Saya tuh orangnya, paling alergi sama laki-laki dan perempuan yang genit. Yang ganjen, lenjeh, whatever you named it lah.Genit ketika berpapasan dan memandang lawan jenisnya. Itu mataaa.. hobinya piknik kemana-mana. Or pas nunduk nemu duit di jalan. Bagusnya dipakein kacamata kuda aja nih yang model begini.

Genit dalam berkata-kata kepada lawan jenisnya. Baik di dunia nyata maupun maya. Kalo ketemu lawan jenisnya (apalagi yang kinclong) suka lempar senyum, cengar cengir geje. Kalo chatting suka kirim smiley, emot-emot unyu. Haha-hihi nggak penting. Sengaja milih kalimat yang bikin hati keruh, bikin lawan jenisnya ge-er. Malah terkadang sudah tidak sungkan-sungkan langsung chat ngeres yang berbau seks dan langsung aja saling kirim foto telanjang, yang perempuanya sudah gatel kirim pose telanjang tanpa ragu, iya kalau bodynya aduhhay atau semlohay kayak artis, lah ini bentunya syala...la..la..la loh, ya maklum sudah tante-tante beranak, tapi pede'nya abege abis. 

Genit dalam pergaulan dengan lawan jenis. Meremehkan ikhtilat. Meski sudah sama-sama menikah, tapi kelakuan mirip abege yang lagi puber. Nada suara mendayu-dayu sampai lirikan mata yang mengandung arti. Sampai yang lihatnya risih dan malu sendiri.Genit dalam banyak hal, atuhlah. Pokoknyamah bikin eneug yang lihat dan denger. Bikin polusi. Bikin pengen nyari baskom. Bikin pengen nyiram pake air seember biar bubar. 

Dari segi usia dan jam terbang, kita ini mah apalah apalah..”Wal’iyadzubillah..Semoga Allah jauhkan kita dan keluarga dari sifat yang demikian. Dan semoga semua laki-laki dan perempuan semacam itu segera diberi hidayah oleh Allah.That’s why saya wanti-wanti banget sama adik-adik perempuan saya, teman dekat saya, dan anak perempuan juga anak lelaki saya kelak:“Jangan mau dinikahi oleh pria atau wanita yang genit. Mau seganteng, secantik, setajir dan sepopuler apapun, kalo genit: Blacklist!” 

Makan ati banget lho punya pasangan yang nggak bisa jaga mata dan kehormatan diri. Sebagai pasangan kita akan dihantui rasa curiga terus menerus. Jangan-jangan, di belakang kita dia… bla bla bla. Apalagi bagi mereka yang “mengharamkan mutlak” pasangannya untuk membuka gadget dan barang-barang pribadinya. Banyak kejadian itu nyata di sekitar saya. Gadget selalu dipassword, disilent, disimpan dalam tas. Sampai kalo lagi mandi atau tidur, ada panggilan telepon atau SMS masuk, pasangan dan anak-anaknya nggak boleh ada yang buka, apalagi jawab. Kalo ketahuan ada yang buka, bisa marah besar.Tanda tanya dong.. Kalau memang nggak ada “sesuatu” kenapa harus se-ekstrem itu coba? Kalo memang isinya biasa-biasa saja, tidak ada yang perlu ditutupi, kenapa harus paranoid banget, khawatir pasangannya tahu isi gadgetnya? Aha! Meski tidak semua orang yang strict soal privacy gadget itu menyembunyikan sesuatu, tapi yang seperti itu ada dan nyata. 

Seseorang yang genit, secara tidak sadar, ia merendahkan harga dirinya dan harga diri pasangannya. Iya, sifat genit itu merendahkan harga diri seseorang plus harga diri pasangannya, menurut saya. Bikin malu diri sendiri dan pasangan.Tapi nggak tau juga ya kalau memang rasa malu itu sudah hilang dalam dirinya. Padahal rasa malu itu adalah bagian dari iman. Jika rasa malu seseorang telah hilang, maka imannya layak untuk dipertanyakan. 

Nasehat ulama terdahulu: “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu.”Sifat genit adalah musibah. Ia membuka peluang untuk terjadinya zina. Betapa banyak perselingkuhan dimulai dari longgarnya hijab antara laki-laki dan perempuan, yang berujung kepada hilangnya rasa malu. Ketika bahaya ikhtilat mulai diremehkan, ketika itulah pintu perselingkuhan mulai terbuka lebar. 

Honestly, saya pribadi lebih suka dibilang, “perempuan galak dan perempuan tidak ada basa basinya", daripada dibilang“perempuan genit”, ihh amit-amit. Kalau di tempat kerja saya, saya terkenal orang yang paling tidak ramah dan galak, haha..., karena bagi saya memposisikan ramah apa tidak saya tempatkan ke posisi yang pas dan benar, kalau menurut saya orang yang genit sama saya, itu sudah kurang ngajar, wajar dong kalau saya galak terus saya tendang, saya tidak bisa bersikap seperti teman saya yang ramah abis padahal itu sikap genit, itulah susahnya manusia yang tidak bisa membedakan antara genit dan ramah, saya mah cuma bisa tepuk jidad aja.

Demikianlah edisi curhat habis liat chat laki-laki genit dengan wanita genit di sebuah forum hari ini. 

Aku Rindu