Jan 9, 2015

Rindu



Kalau rindu berwujud air, aku mampu menghilangkan dahaga di seluruh dunia
Kalau rindu berwujud bunga, aku sudah gila seharian tertawa di taman nirwana
Kalau rindu berwujud pelangi, paling tidak aku sudah membuat jutaan senyum
Kalau rindu berwujud udara, aku bisa membaginya dengan semua mahluk, bahkan pada cacing dalam tanah.


Nyatanya rinduku seperti belati, habis aku disayat-sayat
Nyatanya rinduku seperti api, sudah sehitam arang aku masih berdiri tegak, meminta dibakar sekali lagi
Nyatanya rinduku seperti badai, dihajar berkali-kali, terhempas begitu jauh, lalu dikembalikannya aku ke tempat semula
Nyatanya rinduku seperti maut, membuatku mati mengenaskan, sekali-dua kali, aku tak juga jera.


Jika rinduku jauh lebih besar dari aku sendiri begini, katakan, dengan apa aku akan mampu menahannya?

Medio 29 Juli '2010


Utk yang jauh disana
aku mungkin tidak mengenalmu, tetapi aku memberanikan menulis surat ini
setiap saat setiap waktu aku selalu melihat memandang fotomu,aneh rasanya saya senang atau jatuh cinta tampa mengenalmu, dgn surat ini saya hanya ingin lbh dekat mengenalmu , syukur syukur kamu lbh dapat mengenal.pribadi ku,
jujur , aku takut utk menyapamu , karena kau lbh dari segalanya, kau yg jauh disana sudikah aku mengenal dirimu   aku hanya ingin menulis puisi ini Aku Tak Bisa Berbahasa Cinta Seperti Inginmu... Aku Bukanlah Ahli Tafsir Yang Bisa Menterjemahkan Pandangan Matamu Maupun Setiap PerkataanMu... Aku Bukan Pula Malaikat Yang Bisa Terbang Menembus Mimpi-MimpiMu... Yang Aku Tahu Dan Yang Aku Bisa Hanyalah MENCINTAIMU Hingga Suatu Saat Aku Bisa dekat dgnmu dan saling mengerti , utk indrajied


Saat pertama air mata menodai garis-garis tinta di atas kertas, menyatukan kata-kata dan rahasia jiwa, inilah yang aku tulis.Sebenarnya aku tidak tahu apa yang aku tulis ini, aku hanya mencoba berikan jiwaku untuk terbang di atas kata-kata. Jiwaku yang di siksa oleh kesengsaraan dan disenangkan cinta yang memindahkan kesedihan dalam kebahagiaan dan kehampaan dalam kesenangan.Terkadang aku melihat diriku terbangun dalam ketaksadaran, mendengar apa yang tak aku dengar, melihat apa yang tak aku lihat, merenungi apa yang tak aku pahami, tersadar untuk apa yang tak aku ketahui dan kudapati mimpi-mimpi telah membohongiku tetang hadirmu.Dimanakah engkau kekasihku, jiwaku memanggilmu dari balik lautan ketakutan. Apakah engkau mendengar panggilanku dan kesedihanku dari seberang lautan.Apakah engkau melihat kelemahan dan kesengsaraanku, apakah engkau tahu kesabaran dan ketahananku, apakah tak ada jiwa di udara yang mampu mengantarkan nafas penderitaan seorang manusia yang sekarat dan membawa ratapan kekasih yang merindu.Dimanakah engkau hidupku, kegelapan telah memelukku dan kesedihan membanjiriku. Engkau memberiku batas ujian yang begitu berat namun satu hal yang perlu engkau ketahui, cintaku untukmu tak sebatas kata yang terucap dari lidahku, cintaku padamu tak sebatas rasa dari dalam hatiku. Maukah engkau satu cabang denganku dalam tubuh kehidupan, Maukah engkau satu kata denganku dalam bibir Tuhan.



Itu surat yang dikirimkan ke aku dari seseorang yang waktu itu memang tidak aku kenal, seseorang itu hanya berteman di media sosial saja, bertemupun juga tidak pernah, tapi isi suratnya begitu dasyatnya yeee....hehehee..., Ehh kok yo njelalah suratnya kagak nyampe alias nyangkut di kantor pos, gara gara no alamatnya salah, waktu itu nulis suratnya di Bali tanggal 29 juli 2010 malam, besoknya dikirim pas tanggal kelahiranku 30 juli 2010, sampai sekarang tetep suratnya masih nyangkut di kantor pos, lah kok aku bisa nulis surat itu disini ya ? Nah itu dia pakai felling aja sih, moga moga aja bener isi suratnya kayak gitu yee....


Awal baca aku kaget dan kaget, aneh tapi nyata, kenyataanya emang gitu sih. Eh... mas paijoku sayang, kalau baca jangan ikut kaget juga donk, pasti kelingan waktu nulis beberapa tahun yang lalu ya, udah ahh jangan bengong gitu, aku jadi binggung nich.., tapi yang jelas kenyataanya jadi bersama sama kan ? Seperti apa yang selalu di dalam doa'mu, Amin....


Akirnya jawaban surat 29 Juli 2010 baru ke jawab sekarang, jawabannya ,
I LOVE YOU...., I LOVE YOU....., I LOVE YOU....
Mas paijoku sayang emuachhh...

By Indrajied'

Dec 23, 2014

Sang Bidadari Dunia..




Seorang laki-laki yang mereka bertanya kepadanya,
"Mengapa engkau begitu mencintai istrimu sedemikian rupa?"

Laki-laki itu menjawab, "Karena istriku adalah…

Bidadari dalam kehidupan dunia ini…
♥
Ia memperdengarkan kepadaku apa yang aku suka untuk didengarkan,dan mendengarkan dariku apa yang aku suka untuk aku ucapkan…
Aib-aibku sangat aku kenali, namun ia tidak pernah melihatnya.
Kekurangan dalam diriku ia sempurnakan dengan keridhaan dirinya…
Ia adalah tiraiku dan kebahagiaanku…
Ia bersamaku dalam bahagia, dan selalu bersamaku dalam kesulitan…
Dalam dua keadaan itu, ia tetaplah seorang wanita yang pandai bersyukur…
Jika dunia membuatku lelah, maka cukuplah bagiku bahwa ia bersamaku di dalamnya…
Ia menjaga kehormatanku saat aku tidak ada, dan menjaga kehormatan dirinya…
Ia memiliki lisan yang manis karena selalu berdzikir…
Ia memiliki hati yang lembut karena selalu khusyu’…
Kedua matanya bercahaya karena selalu memandang kepada ayat-ayat al-Quran…
Aku bagian darinya dan ia bagian dariku…
Aku tidak mengatakan bahwa ia adalah separuh diriku,
bahkan, ia adalah seluruh diriku yang lain…

Istri adalah Manager dan Partner



Wanita dinikahi bukan untuk melakukan aktivitas memasak dan mencuci. Apabila ia bisa memasak dengan rasa yang lezat itu adalah bonus, bukan kewajiban. Istri adalah manajer di dalam rumah. Namanya manajer seyognyanya punya staf alias anak buah maka tugas suamilah menyediakan pembantu untuk istrinya.

Seorang istri harus memastikan bahwa keadaan dan suasana rumah nyaman bagi penghuninya. Ia akan mengusahakan dengan sekuat tenaga agar anggota keluarga betah dan kerasan tinggal di dalam rumah. Sebagai manajer, ia yang bertanggungjawab atas kerapian, ketertiban, kebersihan dan kenyamanan rumah.

Oleh karena itu, seorang istri tidak boleh terlalu lelah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat teknis seperti mencuci, ngepel, memasak dan sejenisnya. Sebab, tugas lain selain sebagai manajer juga memerlukan energi yang besar. Apa itu? Istri juga sebagai partner bagi suami. Ia adalah teman diskusi yang cerdas dan menyenangkan bagi suami.

Tugas istri begitu berat, sungguh tidak pantas seorang suami merendahkannya. Apabila ternyata istri Anda belum sanggup berperan sebagai manajer dan partner, maka tugas suamilah menyiapkan dan mendidiknya. Tanpa manajer dan partner yang hebat, pertumbuhan kesuksesan dan kemuliaan hidup Anda bisa terhambat dan tersendat.

Sebagai manajer dan partner, maka perlakukanlah istri secara terhormat. Dia bukan staf atau karyawan Anda. Dia juga bukanlah pembantu Anda. Bila Anda belum punya pembantu atau mungkin pembantu tidak masuk kerja, ringankanlah dan bantulah istri Anda.

Perlakuan kita terhadap istri akan sangat mempengaruhi perlakuan istri kepada anak-anak di rumah. Apabila kita memperlakukan istri secara terhormat maka akan berpeluang besar menghasilkan anak-anak yang percaya diri, memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian.  Dalam jangka panjang, anak-anak akan tumbuh ke arah hidup yang lebih bermartabat dengan karakter yang kuat.

Sudahkan kita memperlakukan istri sebagai manajer dan partner?

Salam SuksesMulia!



HARAPAN DAN KEPASTIAN



Konon, ketika seorang istri meminta pada suaminya, “Pa, akhir tahun ini kita liburan, yuk?” Sebenarnya yang mereka harapkan adalah jawaban singkat dari suaminya, “Ayo!”.

Dengan jawaban itu, sang istri akan punya kebahagiaan tersendiri, semacam waktu senggang untuk membayangkan ke mana saja ia akan berlibur, apa saja yang akan dilakukan saat liburan. Bagi sebagian orang, punya rencana liburan saja sudah merupakan sesuatu yang membahagiakan.

Meski pada saatnya mereka tak benar-benar pergi, kebanyakan istri akan mengerti dan baik-baik saja. Meski mereka akan tetap bertanya, “Tidak apa-apa, Pa. Tapi kita tetap akan liburan, kan?”

Lagi-lagi, jawaban yang diharapkan adalah, “Tentu saja. Nanti kita akan liburan!” Itu saja cukup.

Sayangnya, setiap kali mendengar istrinya meminta sesuatu, para suami lebih sering jadi sewot sendiri, “Mama gimana, sih? Mintanya aneh-aneh aja! Kayak yang nggak tahu aja kalau tahun ini kita banyak banget pengeluaran! Belum lagi awal tahun depan banyak banget yang harus dibayar!”

Dari sanalah pertengkaran yang sebenarnya tidak perlu sering terjadi.

Konon, perempuan memang senang jika diberi harapan. Tetapi mereka akan bahagia jika diberi kepastian.

Apa benar begitu? 



Aku Rindu