Oct 10, 2015

Mencintai Seseorang Yang Baik

Kebaikan itu magis. Kita senang melihat perbuatan baik. Kita senang pada orang yang berbuat kebaikan. Orang baik punya daya tarik. 

Kita pun boleh jadi mencintai seseorang karena dalam pandangan kita, orang tersebut baik. Tak peduli jika orang lain tak sepakat dengan kita. 
Kita selalu bisa melihat sisi baik dari orang yang kita cintai. Dan berharap kita bisa membuat orang lain juga bisa melihat sisi baik tersebut.

Mencintai orang baik seperti mudah. Ada banyak hal yang bisa kita kagumi darinya secara spontan. Semua orang akan berpikir kita begitu beruntung memilikinya sebagai seseorang yang dicintai.

Tapi, pada kenyataannya tidak selalu semudah itu.

Mencintai orang baik berarti memahami bahwa kebaikannya dibutuhkan oleh banyak orang. Bukan hanya oleh kita.

Kita tahu bahwa ia baik bukan hanya pada kita. Tetapi pada semua orang. Itu berarti selain ia sebagai kekasih, atau suami, istri, ayah atau ibu yang baik, ia pun seorang anak yang berbakti pada kedua orang tuanya, teman yang suka membantu, pelayan masyarakat yang mengayomi, pekerja yang profesional, juga pemimpin yang berdedikasi.

Mencintai orang baik berarti memahami bahwa di hatinya bukan hanya ada kita. Hatinya memiliki banyak ruang untuk mengasihi banyak orang. Waktunya dibagi kepada banyak orang yang membutuhkan. Akalnya digunakan untuk memikirkan banyak orang.

Mencintai orang baik juga berarti memahami bahwa kita tak bisa egois dan berpikir bahwa ia milik kita. Karena akan selalu ada celah-celah yang dimanfaatkan para penggoda untuk menghembuskan perasaan iri dan cemburu.

Sejak detik pertama, mencintai orang baik berarti rela. Rela untuk tidak selalu jadi yang utama. Rela untuk mendukung tanpa keluh kesah. Rela untuk mendoakan tanpa lelah. 

Berharap dipersatukan dengan orang baik ibarat mendambakan hujan. Kita tak bisa memintanya untuk jatuh di halaman rumah kita saja…

Oct 9, 2015

Perempuan Sesungguhnya

Menjadi perempuan tak selalu mudah
Apalagi dengan banyak perannya


Menjadi perempuan sesungguhnya menyenangkan
Karena perempuan diistimewakan


Namun hati-hati jadi perempuan
Salah sikap dan langkah sedikit saja bisa bahaya


Ah susahnya menjadi perempuan
Tapi maklumi saja
Barangkali mereka hanya iri tak mampu seperti kami
Iri yang tak disadari
Mengendap dalam hati
Karena tak pernah diistimewakan
Ditambah lagi hidupnya seperti menjadi beban dengan peran yang disematkan


Senangnya menjadi istimewa hanya karena perempuan
Tapi jangan dulu merasa senang
Boleh lah senang tapi jangan berlebihan
Karena tantangan siap menunggu di depan


Perempuan akan banyak dihadapkan pada pilihan
Demi menjawab tantangan
Sangat banyak pilihan karena tantangannya pun tak kalah banyaknya


Beruntung perempuan yang bisa memilih
Kasihan perempuan yang tak punya pilihan


Untuk keseimbangan
Untuk kesetaraan
Perempuan yang bebas memilih pun memperjuangan perempuan tanpa pilihan


Senang? Jangan dulu
Hanya karena perempuan
Perjuangan tak selalu mudah
Banyak tantangannya


Sebagian perempuan pejuang itu berguguran menyatu dengan perempuan tanpa pilihan
Sebagian bertahan kuat berdiri tegak meski terpinggirkan
Sebagian berada di antaranya berjuang namun nyaris gugur hanya karena dia perempuan


Mereka yang berada di antaranya bersiap dengan banyak kemungkinan dan pilihan

Tak mau gugur karena banyak impian
Tak ingin bertahan karena mau hidup sederhana yang lebih menenangkan


Tak sanggup bertahan karena tantangan begitu dahsyat

Dari dalam dirinya dengan begitu banyak peran yang dimainkannya
Tantangan di sekelilingnya yang mencibir yang mencemooh yang curiga yang mengintimidasi yang tak mau berdiri sejajar
Belum lagi menghadapi orang yang beraninya berhadapan hanya karena dia perempuan


Ya! Hanya karena dia perempuan
Beraninya hanya dengan perempuan


Sungguh malang nasib perempuan sesuper apapun selalu berhadapan dengan superior yang membuatnya selalu inferior
Perempuan sesuper apapun yang sesungguhnya punya peluang dan memegang kepercayaan menjadi incaran para superior dengan apa pun misinya
Bahkan mungkin tanpa misi, tanpa sadar, melemahkan hanya karena dia perempuan di antara para superior yang tak tersentuh tak berani disentuhnya

Terimakasih, Sayangku...

Bisa dibayangkan betapa susahnya berperan sebagai istri? Harus bangun sebelum shubuh. Menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak. Membersihkan rumah. Merapikan meja makan. Mencuci peralatan masak. Mencuci pakaian. Menguras bak mandi. Ah…betapa bosannya jika harus menikmati pagi dengan rutinitas seperti itu. Bagi seorang istri yang sekaligus berperan sebagai ibu, sulit sekali rasanya menikmati pagi dengan rutinitas yang santai.

Belum lagi, ketika menjelang senja saat suami pulang kerja. Seorang istri harus tampil cantik untuk menyambut suaminya. Menyiapkan segelas kopi di mejanya. Memandikan anak-anak dan banyak lagi yang harus dilakukan.

Rutinitas yang menjenuhkan, bukan? 
Sekalipun semua rutinitas itu ia jalani dengan penuh cinta, tetap saja kelak ia akan merasa bosan. 

Tahukah?
Bagi seorang istri, ucapan ‘terimakasih’ dari seorang lelaki yang begitu dicintainya adalah pengobat rasa lelahnya. Tidak perlu repot membalas pengabdiannya dengan membelikan kue coklat atau perhiasan berharga. Cukup hargai usahanya dan berikan ucapan ‘terimakasih, sayangku’ ditambah dengan pelukan hangat. Itu sudah lebih dari cukup.


Seperti mas paijoku sayang, yang tak bosan-bosanya mengatakan "terima kasih sayangku, dan I Love You"...

Pembelajaran Hidup

Kalau suatu hari nanti kita bertemu, jangan menyesali tentang keputusan-keputusan yang pernah kita ambil di masa lalu. Di masa kita masih sama-sama remaja, sama-sama masih dalam pencarian. Kadang, pembelajaran sebuah kejadian baru akan kita pahami bertahun-tahun kemudian, tentang mengapa itu terjadi dalam hidup kita dan mengapa harus kita yang mengalaminya.

Kalau suatu hari nanti kita bertemu, saat mungkin kita sudah berdiri sebagai orang tua. Jangan menyesali tentang keputusan yang dulu pernah kita ambil saat kita sama-sama masih sendiri. Mungkin dulu kita memiliki perasaan satu sama lain, perasaan itu boleh pernah ada. Tapi hari ini, kita berdiri di atas sebuah komitmen yang jauh lebih hebat dan mengalahkan semua perasaan kita di masa lalu. Mungkin dulu kita pernah sama-sama memperjuangkan sebuah kebersamaan meski pada akhirnya kita tidak bisa mengalahkan kehendak-Nya. Yang perlu kita ingat adalah, bukankah kita bahagia dengan apa yang kita miliki setelahnya? Pasangan yang terbaik dan anak-anak yang terbaik.

Pembelajaran hidup hampir selalu datang belakangan, bukan? Kalau suatu hari nanti kita bertemu. Jangan lupa menyapaku sebagai teman lama yang dulu pernah belajar tentang hidup dalam masalah yang sama denganmu. Aku percaya, kita bisa memenangkan hari-hari kita, baik masa lalu, yang sedang kita jalani, dan esok hari.

Kalau suatu hari nanti kita bertemu. Jangan lupa tersenyum dan ceritakan kepada anak-anak kita bahwa kita adalah teman yang hebat agar anak-anak kita mengerti dan bisa membuat cerita mereka sendiri. Bahwa masa lalu biarlah menjadi pelajaran. Dan bila kita berpisah, jangan lupa untuk tersenyum dan mengucap salam. Karena kita berharap, segala kebaikan itu mengalir tiada henti sampai kita sama-sama tiada.

Kalau suatu hari kita berpisah. Jangan lupa untuk bersyukur bahwa kita pernah dipertemukan, menjadi jalan pembelajaran, dan menjadi perantara kebaikan. Kita akan mensyukuri hari-hari yang pernah kita lewati di masa muda.

Oct 8, 2015

Pernikahan Mendekatkan Pada Ketulusan

Sesungguhnya ketulusan itu dekat sekali dengan sesuatu yang sedikit.

Seorang yang kehidupannya sangat sederhana yang menjamumu di rumah padahal bisa jadi dia hanya memiliki makanan hanya cukup untuk diri dan keluarganya saja, maka perbuatannya itu dekat sekali dengan ketulusan.
Seseorang yang mau meluangkan waktu pentingnya demi mendengar curhatmu tanpa 'membebankan biaya konsultasi, maka perbuatannya itu dekat sekali dengan ketulusan.
Seseorang yang bersedia membantumu ketika dia sendiri berada dalam kesulitan tanpa pernah menganggap itu kebaikan khusus maka perbuatannya itu dekat sekali dengan ketulusan.


Coba lihatlah suamimu. seberapa pun dia membawa rezeki yang dia dapatkan, sedikit atau pun banyak, dan dia mau membaginya denganmu maka itu dekat sekali dengan ketulusan.


Coba lihatlah istrimu, sebetapapun dia sibuk mengurusi anak dan pekerjaan rumahnya namun bila kau bercerita tentang sesuatu maka dia akan mendengarkanmu dengan penuh seksama, maka itu lah jiwa yang dekat sekali dengan ketulusan.


Coba lihatlah suami atau istrimu, bila dia masih sempat mengambil jemuran di gantungan, membersihkan kamar dan bak mandi serta mengantar anak ke sekolah, membayar tagihan listrik dengan uang miliknya, berbelanja tanpa menganggap itu adalah pemborosan penghasilan yang didapatkan sehari-hari, maka itu lah jiwa yang dekat sekali dengan ketulusan.


Maka tidaklah salah bila kita beranggapan, sejatinya pernikahan itu mendekatkan jiwa kita dengan jiwa-jiwa yang penuh ketulusan.


Wallahua'lam

Rasa

Satu kata sederhana yang selalu menanti di perjalanan setiap orang.
Yang berhasil membuat setiap makhluk tuhan terombang-ambing dalam keresahan. Jatuh terkilir karena ketidakpastian. Sakit hati karena perpisahan. Retak hati karena lelahnya penantian. Ternyata titik akhirnya tak sesuai harapan.


Tapi…
Sebagian dari mereka berbahagia. Yaitu mereka yang tak pernah goyah berlelah-lelah menunggu yang telah pasti ditakdirkan Tuhan untuknya. 

Rasa yang telah lama terpendam akhirnya berlabuh pada tempat yang semestinya. Dalam ikatan yang direstui kedua orangtua. Dalam jalinan cinta yang menyatukan tak sekedar dua jiwa, tapi dua buah keluarga. Maka berbahagialah untuk mereka.

Kesombongan

Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki.

Bagi orang tersebut tidak bermanfaat ilmunya untuk dirinya.
Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa.

Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar.

Ada nasehat yang di sampaikan oleh Imam Abu Yazid merupakan obat mujarab bagi orang yang hatinya di kuasai perasaan ingin di puji orang lain dan berbangga diri. Sekedar melakukan sholat maupun puasa sunnah tidak cukup untuk membuatnya sadar, Bahkan ibadah tersebut membuatnya menjadi semakin sombong dan suka pamer.
 
Orang semacam ini harus di biasakan bergaul dengan orang orang miskin dan lemah, sehingga kebanggaan dan rasa ingin pamernya itu,lambat laun akan sirna,selama jiwa di kuasai keinginan semacam ini, maka dia tidak akan pernah merasakan manisnya ilmu dan ibadah.
 Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi).
Laa haula wa laa quwwata illaa billah.

Aku Rindu