Ada kalanya kita ingin sendiri. Mengurungkan diri didalam kamar
pribadi. Menjauh dari keramaian, hanya ingin sendiri.. sendiri.
Menghindar dari peradaban yang melenakan, rutinitas yang membosankan,
yang terus berulang-ulang menjadi kebiasaan. Bukan mengajarkan untuk
hidup sendiri, apalagi tidak perlu bersosialisasi. Bukan, sama sekali
bukan.
Hanya saja dilain waktu kita perlu jeda untuk sebentar waktu. Melihat apa saja yang sudah dilakukan. Benarkah sudah sesuai harapan kita, sudahkah kita menjadi makhluk yang benar-benar tumbuh kian hari. Merenungi apa yang sudah diperbuat untuk masa yang begitu dicemaskan kehadirannya.
Bisa saja kita menceritakan apa yang sedang dialami, harapan apa yang sedang diburui, dan hal-hal yang sedang terkait pada diri sendiri. Hingga pada akhirnya yang kita cari bukanlah sebuah solusi namun tempat untuk mencurahkan isi hati. Tidak perlu banyak berbicara, belum tentu yang mendengar bisa memahami sebelum ia mengalaminya sendiri.
Terkadang yang kita butuhkan adalah sandaran saat semangat mulai rapuh. Orang lain yang mau mendengar segala kelu-kesah tanpa perlu mencarikan jawaban. Yang kita perlukan adalah wadah untuk menumpahkan segala asa. Terutama tempat berbagi pada mereka yang mampu menguatkan kembali semangat yang sempat pergi.
Kita perlu menghentikan sejenak perjalanan, kemudian melanjutkan kembali kehidupan. Menata kembali metode dalam peraihan cita dan mimpi. Meluruskan kembali kebuletan tekad dalam hati. Bahwa kita sungguh-sungguh menjalani apa yang menjadi pilihan untuk diwujudi. Hingga kita bisa sampai pada tujuan yang diingini.
Bukankah banyak hal yang bisa kita lihat lebih jauh saat kita berhenti, hal yang mungkin selama ini kita salah arah saat berjalan, dan kita temukan kembali semua semangat yang menggema disanubari, kesiapan dalam mengukir prestasi, dan kesuksesan yang pastinya akan kita miliki.
Hanya saja dilain waktu kita perlu jeda untuk sebentar waktu. Melihat apa saja yang sudah dilakukan. Benarkah sudah sesuai harapan kita, sudahkah kita menjadi makhluk yang benar-benar tumbuh kian hari. Merenungi apa yang sudah diperbuat untuk masa yang begitu dicemaskan kehadirannya.
Bisa saja kita menceritakan apa yang sedang dialami, harapan apa yang sedang diburui, dan hal-hal yang sedang terkait pada diri sendiri. Hingga pada akhirnya yang kita cari bukanlah sebuah solusi namun tempat untuk mencurahkan isi hati. Tidak perlu banyak berbicara, belum tentu yang mendengar bisa memahami sebelum ia mengalaminya sendiri.
Terkadang yang kita butuhkan adalah sandaran saat semangat mulai rapuh. Orang lain yang mau mendengar segala kelu-kesah tanpa perlu mencarikan jawaban. Yang kita perlukan adalah wadah untuk menumpahkan segala asa. Terutama tempat berbagi pada mereka yang mampu menguatkan kembali semangat yang sempat pergi.
Kita perlu menghentikan sejenak perjalanan, kemudian melanjutkan kembali kehidupan. Menata kembali metode dalam peraihan cita dan mimpi. Meluruskan kembali kebuletan tekad dalam hati. Bahwa kita sungguh-sungguh menjalani apa yang menjadi pilihan untuk diwujudi. Hingga kita bisa sampai pada tujuan yang diingini.
Bukankah banyak hal yang bisa kita lihat lebih jauh saat kita berhenti, hal yang mungkin selama ini kita salah arah saat berjalan, dan kita temukan kembali semua semangat yang menggema disanubari, kesiapan dalam mengukir prestasi, dan kesuksesan yang pastinya akan kita miliki.
